Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memastikan bahwa Timnas Malaysia tidak akan langsung menerima hukuman seperti yang diterima Timnas Timor Leste terkait dugaan pemalsuan dokumen pemain keturunan. Perbedaan mendasar terletak pada waktu pelanggaran itu terungkap.
Sekjen AFC, Windsor John Paul, menjelaskan bahwa meskipun kedua kasus tersebut tampak serupa, terdapat perbedaan utama yang menjadi pertimbangan. Kasus Malaysia terungkap saat turnamen masih berlangsung, berbeda dengan kasus Timor Leste.
"Dalam kasus Timor Leste, kompetisi sudah selesai sebelum pelanggaran ditemukan," ujar Windsor seperti dikutip dari New Straits Times.
Windsor menambahkan, sanksi untuk Timor Leste diberikan karena pelanggaran baru terungkap setelah turnamen usai. Akibatnya, mereka dilarang tampil pada edisi berikutnya. Sementara itu, kasus Malaysia berbeda karena terungkap saat kompetisi masih berjalan.
"Untuk Harimau Malaya, situasinya berbeda, karena masalah ini ditemukan ketika kompetisi masih berlangsung," tuturnya.
Malaysia saat ini masih berpartisipasi di putaran ketiga Kualifikasi Piala Asia 2027 dan berpeluang lolos ke putaran final di Arab Saudi pada Januari 2027.
Sebelumnya, Pengadilan Arbitrase Internasional (CAS) menolak banding Malaysia terkait larangan bermain bagi tujuh pemain naturalisasi ilegal. Mereka adalah Facundo Tomas Garces Rattaro, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Gabriel Felipe Arrocha, Jon Irazabal Iraurgui, serta Hector Alejandro Hevel Serrano.
AFC sebelumnya menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepak Bola Timor Leste (FFTL) dengan melarang tampil di Kualifikasi Piala Asia 2023 setelah Sekjen FFTL, Amandio de Araujo, terbukti memalsukan dokumen kewarganegaraan sejumlah pemain.
Windsor juga mengatakan bahwa Komite Disiplin AFC akan bekerja dengan hati-hati sebelum menjatuhkan keputusan resmi, karena setiap keputusan memiliki konsekuensi hukum.
"Semua keputusan dari Komite Disiplin dapat diajukan banding," tutur Windsor.
"Setelah proses banding, kasus tersebut bahkan bisa dibawa ke Court of Arbitration for Sport," imbuhnya.