Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman serius kepada Iran. Kali ini, Trump mengisyaratkan penghancuran sumur minyak, pembangkit listrik, serta Pulau Kharg jika Teheran tidak segera membuka akses Selat Hormuz.
Klaim dari Trump menyebutkan bahwa terdapat diskusi berkelanjutan antara AS dan Iran untuk mencapai penyelesaian konflik. Namun, jika kesepakatan tidak tercapai dan Iran tetap menolak membuka Selat Hormuz untuk aktivitas bisnis, Trump menegaskan tidak akan ragu untuk menghancurkan infrastruktur energi vital milik Teheran.
"Kemajuan besar telah dicapai, tetapi jika karena alasan apapun kesepakatan tidak segera tercapai, yang kemungkinan besar akan terjadi, dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, kami akan mengakhiri kunjungan kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg mereka (dan mungkin semua pabrik desalinasi!), yang sengaja belum kami sentuh," ujar Trump, seperti dikutip dari CNBC, Senin (30/3/2026).
Konflik antara AS, yang juga didukung Israel, dan Iran telah memasuki minggu kelima. Dalam konteks ini, Trump juga disebut-sebut memiliki rencana untuk mengirimkan pasukan darat dengan tujuan merebut Pulau Kharg, yang dikenal sebagai jantung industri minyak Iran.
Pulau Kharg memiliki kapasitas pemuatan sekitar 7 juta barel minyak per hari, menjadikannya target strategis dalam potensi konflik. Hingga saat ini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan terbaru dari Presiden Trump tersebut.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa 15 poin yang diajukan oleh AS sebagai syarat penghentian perang dianggap berlebihan dan tidak realistis. Selain itu, para pemimpin Iran juga telah membantah adanya pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat terkait penyelesaian konflik.
Sebagai informasi tambahan, Selat Hormuz memegang peranan krusial sebagai jalur ekspor sekitar 90% minyak mentah Iran, menyoroti pentingnya selat ini dalam perhitungan geopolitik dan ekonomi.