Pelatih kawakan Carlo Ancelotti melontarkan kritik mendalam terkait kemerosotan kualitas sepak bola Italia dalam wawancara bersama media Il Giornale pada Jumat, 17 April 2026. Ia menilai kegagalan Timnas Italia menembus Piala Dunia dan penurunan prestasi klub Serie A disebabkan oleh hilangnya intensitas permainan.
Dilansir dari Bola, Ancelotti menegaskan bahwa perbedaan mendasar antara kompetisi domestik Italia dan Liga Champions terletak pada kecepatan. Hal ini mencakup kecepatan fisik serta kecepatan berpikir para pemain dalam keterlibatan konstan di lapangan.
"Perbedaan mendasarnya adalah kecepatan. Bukan hanya lari secara fisik, tetapi kecepatan berpikir, keterlibatan konstan, intensitas, yang bukan sekadar kata kosong dan tidak bisa diterapkan hanya di momen tertentu. Sepak bola Italia telah kehilangan itu," kata Carlo Ancelotti, Pelatih Sepak Bola.
Ancelotti juga menyoroti pengikisan fondasi permainan Italia yang selama ini dikenal sangat solid. Ia berpendapat bahwa fokus yang terlalu berlebihan pada aspek taktik justru merusak karakter utama pemain dan mematikan talenta individu di beberapa area lapangan.
Sektor pemain asing juga tak luput dari perhatian mantan pelatih AC Milan tersebut. Menurutnya, Serie A kini kehilangan daya tarik bagi pemain bintang kelas dunia karena kalah bersaing dengan liga luar negeri yang didukung hak siar besar serta investor kuat.
Ancelotti membandingkan era keemasan masa lalu saat Italia dipenuhi bintang seperti Diego Maradona dan Michel Platini dengan kondisi saat ini yang minim pemain luar biasa. Hal ini dinilai berdampak pada proses belajar para pemain muda lokal.
Kritik tersebut juga menyasar gaya bermain klub-klub tertentu seperti Atalanta yang dianggap mengambil risiko terlalu besar dengan sistem satu lawan satu. Ia turut menyinggung klub Como yang dianggap belum memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan pemain asli Italia.
Sebagai solusi, Ancelotti mendesak agar sepak bola Italia kembali ke akar identitas lama mereka, khususnya dalam memperkuat mentalitas bertahan. Baginya, kemampuan untuk kebobolan lebih sedikit merupakan faktor krusial yang membawa kesuksesan di masa lalu.