Mantan penyerang legendaris era Galatama, Arsyad Benyal, meninggal dunia pada Senin siang, 4 Mei 2026, di kediamannya di Masohi, Maluku Tengah. Kabar duka ini menandai berpulangnya salah satu striker tajam yang pernah memperkuat berbagai klub besar di kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada dekade 1980-an hingga 1990-an.
Dilansir dari Bola, kondisi kesehatan pria yang memiliki nama keluarga Latuamurry ini dilaporkan mulai mengalami penurunan signifikan sejak akhir tahun 2025. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Arsyad sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit akibat gangguan kesehatan yang diduga dipicu oleh pola hidup setelah pensiun.
Puncak karier Arsyad terjadi saat ia membela Arseto Solo pada tahun 1988, di mana ia berduet dengan striker legendaris Ricky Yakobi. Bersama klub milik Bambang Trihatmodjo tersebut, Arsyad dikenal sebagai pemain dengan karakter agresif dan eksplosif yang menjadi ciri khas pesepak bola asal Indonesia Timur.
Selain Arseto Solo, rekam jejak profesionalnya mencakup sejumlah klub ternama lainnya seperti PS Barito Putera pada 1990, Persiraja Banda Aceh, hingga Medan Jaya. Di Barito Putera, ia tercatat sebagai pemain andalan yang membantu membangun reputasi tim asal Kalimantan Selatan tersebut di kancah nasional.
Setelah memutuskan gantung sepatu, Arsyad memilih untuk menjauh dari hiruk-pikuk dunia sepak bola profesional dan menetap di Maluku bersama keluarganya. Ia menjalani kehidupan sederhana sebagai kepala rumah tangga, sementara istrinya, Nurhalima Tualeka, mengabdi sebagai ASN di Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah.
Almarhum meninggalkan dua orang anak, yakni Muhammad Raditya Surya Akbar dan Marsya Rahmatya Cantika Purnama. Meskipun jarang tersorot media digital modern, kontribusinya dalam sejarah kompetisi Galatama tetap diingat sebagai bagian dari masa kejayaan klub-klub profesional awal di Indonesia.