Adelio Candido, asisten pelatih Ruben Amorim, akhirnya angkat bicara mengenai masa-masa sulit yang mereka lalui di Manchester United.
Setelah kepergian Amorim dari Old Trafford, barulah terungkap gambaran jelas mengenai kejadian sebenarnya di balik layar selama proyek mereka yang berujung pada kegagalan.
Amorim hanya bertahan selama 14 bulan sebagai manajer Setan Merah. Pemecatan pelatih asal Portugal itu dipicu oleh memburuknya hubungan dengan manajemen, terutama setelah komentarnya yang dianggap tajam terhadap kepemimpinan klub usai hasil imbang 1-1 melawan Leeds United. Pernyataan itu disebut menjadi titik balik yang mempercepat pemecatannya.
Setelah Amorim pergi, Manchester United justru menunjukkan peningkatan performa yang signifikan di bawah arahan Michael Carrick. Carrick berhasil membawa United naik ke posisi ketiga klasemen sementara dan berada di jalur yang tepat untuk mengamankan tiket UEFA Champions League musim depan. Kebangkitan ini menyoroti kontras dengan periode inkonsisten di era Amorim.
Dalam wawancara dengan media Portugal A BOLA, Candido menyatakan bahwa pengalaman di Manchester tetap menjadi pelajaran berharga, meski hasilnya tidak sesuai harapan.
“Pengalaman tetaplah pengalaman, baik hasilnya bagus maupun tidak. Kami selalu membawa pulang pelajaran,” ujar Candido.
Candido juga mengaku menikmati atmosfer kota Manchester dan budaya sepak bola di sana. Menurutnya, suporter United memiliki sudut pandang yang unik.
“Di Manchester, saya sangat menyukai kotanya dan cara para penggemar menikmati sepak bola. Mereka lebih fokus pada proyek jangka panjang dibandingkan hasil instan,” tambahnya.
Hal yang Mengecewakan
Candido tak menutupi rasa kecewanya dan secara terbuka menyebut satu hal yang paling mengganjal selama menangani klub.
“Yang paling tidak saya sukai, tanpa ragu, adalah merasa bahwa ide-ide kami tidak sepenuhnya diimplementasikan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan adanya ketidaksinkronan antara staf pelatih dan struktur klub. Banyak pengamat menilai bahwa proyek Amorim sebenarnya membutuhkan waktu dan dukungan penuh dari manajemen untuk membuahkan hasil, terutama karena ia mencoba menerapkan filosofi permainan yang berbeda.
Era Amorim di Old Trafford berakhir lebih cepat dari yang diharapkan, dan kisah di baliknya menunjukkan bahwa membangun ulang klub sebesar MU bukan sekadar soal taktik, tetapi juga soal keselarasan visi dari semua pihak di dalamnya.