Burnley dipastikan terdegradasi ke Championship setelah mencatatkan performa buruk sepanjang kompetisi Premier League musim 2025/2026 hingga Sabtu (2/5/2026). Klub berjuluk The Clarets tersebut terpuruk di peringkat ke-19 klasemen sementara dengan koleksi 20 poin dari 34 pertandingan yang telah dijalani.
Berdasarkan data yang dilansir dari Bola, Burnley hanya mampu meraih empat kemenangan dan menelan 22 kekalahan sejauh ini. Dengan sisa tiga pertandingan, perolehan poin mereka tidak lagi mampu mengejar zona aman yang saat ini menjadi rebutan beberapa tim lain.
Kritik tajam muncul terhadap performa tim asuhan Scott Parker tersebut, terutama mengenai lini pertahanan yang rapuh. Meski sempat tampil solid di kasta kedua pada musim sebelumnya, Burnley justru kebobolan lebih banyak gol dibandingkan tim penghuni dasar klasemen, Wolverhampton Wanderers.
Koresponden sepak bola talkSPORT, Alex Crook, menilai Burnley tidak menunjukkan keseriusan untuk bersaing di level tertinggi sepak bola Inggris. Salah satu indikatornya adalah kebijakan transfer klub yang dianggap tidak masuk akal, termasuk penjualan kiper utama sebelum musim dimulai.
"Itu menunjukkan mereka tidak punya niat untuk bertahan di Premier League. Kalau serius, Anda tidak akan menjual pemain terbaik sebelum pertandingan pertama dimulai," kata Alex Crook, koresponden talkSPORT.
Crook juga melontarkan tuduhan bahwa Burnley sengaja memanfaatkan sistem finansial berupa uang parasut (parachute payments) yang diberikan kepada tim terdegradasi. Nilai ekonomi dari promosi dan kompensasi degradasi tersebut memang sangat besar, mencapai 135 juta paun musim ini.
Burnley kini menyusul Wolverhampton Wanderers yang sudah lebih dulu dipastikan turun kasta ke Championship. Sementara itu, satu tempat degradasi tersisa masih diperebutkan oleh Tottenham Hotspur dan West Ham di penghujung musim kompetisi.