Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa federasi tidak mentoleransi segala bentuk tindakan rasisme dalam ekosistem sepak bola nasional baik di level pembinaan maupun profesional pada Rabu (22/4/2026). Pernyataan ini merespons insiden pelanggaran disiplin dalam kompetisi usia muda baru-baru ini.
Dilansir dari Bola, PSSI mewajibkan operator kompetisi dan seluruh klub peserta untuk menyikapi setiap unsur rasisme dengan langkah tegas dan bertanggung jawab. Penekanan ini dilakukan guna menjaga integritas pertandingan di seluruh strata liga di Indonesia.
Erick Thohir menjelaskan bahwa fokus utama sepak bola usia muda bukan sekadar hasil teknis, melainkan pembentukan karakter dan pengendalian emosi. Ia meminta agar prinsip toleransi dan kepatuhan terhadap aturan diperkuat sejak dini kepada para pemain muda.
"FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit," ujar Erick Thohir, Ketua PSSI.
Langkah penegasan ini merupakan tindak lanjut dari insiden dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 di Semarang pada Minggu (19/4/2026). Dalam pertandingan tersebut, pemain Fadly Alberto diketahui melakukan tindakan fisik terhadap Rakha Nurkholis yang memicu evaluasi kedisiplinan.
PSSI mengapresiasi langkah manajemen Bhayangkara FC dan Dewa United yang telah memfasilitasi pertemuan untuk mendamaikan kedua pemain tersebut. Federasi menilai upaya klub dalam mengedepankan persatuan sebagai implementasi nilai-nilai sportivitas yang harus dicontoh pemain lain.
Operator kompetisi I-League kini diminta untuk memperketat pengawasan pertandingan dan memperkuat sosialisasi anti-kekerasan di seluruh jenjang. Langkah ini bertujuan untuk memastikan kompetisi menjadi ruang belajar yang sehat dan aman bagi pertumbuhan atlet muda Indonesia.