PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Universitas Cenderawasih (UNCEN) telah mengukuhkan komitmen untuk membangun ekosistem pendidikan yang inklusif serta berkelanjutan di wilayah Papua. Sinergi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Acara penandatanganan MoU dilaksanakan oleh Rektor UNCEN, Prof. Dr. Oscar Oswald O. Wambrauw, bersama Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Sains dan Kemitraan UNCEN, Jayapura, pada Maret 2026. Selain itu, kolaborasi ini juga diiringi dengan penyelenggaraan kuliah umum.
Seperti dilansir dari Detik Finance, Prof. Oscar menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah krusial dalam memperkuat kemitraan strategis antara UNCEN dan PT Freeport Indonesia. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah kelanjutan dari perjalanan kolaborasi panjang yang telah terjalin baik, termasuk serah terima Gedung Sains dan Kemitraan UNCEN pada Desember 2025.
Menurut Prof. Oscar, kunci utama dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan adalah melalui kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan industri. Oleh karena itu, sinergi antara UNCEN dan PTFI tidak hanya sekadar kerja sama kelembagaan, melainkan sebuah upaya konkret untuk membangun masa depan Papua melalui sektor pendidikan.
Tony Wenas menambahkan bahwa kemitraan antara perusahaan dan institusi pendidikan sangat penting untuk menyelaraskan antara kebutuhan pasokan (supply) dan permintaan (demand) SDM. “Freeport membutuhkan dukungan SDM yang mumpuni untuk menjalankan pertambangan, UNCEN akan mempersiapkan sesuai dengan kebutuhan tanpa harus mengorbankan kurikulum yang sudah ada atau standar nasional yang ada,” jelas Tony.
Tony mengungkapkan bahwa Freeport Indonesia dan UNCEN memiliki riwayat hubungan yang erat. Banyak kerja sama telah dilakukan, mulai dari penelitian mengenai Singing Dog di Grasberg, penelitian sosial antropologi, penelitian kepemilikan adat suku Amungme, hingga kolaborasi dalam bentuk pengajaran.
Ia juga menyatakan kebanggaan atas penandatanganan MoU PTFI dengan UNCEN yang akan menjadi payung bagi berbagai kerja sama. Kolaborasi ini mencakup pengembangan pendidikan, penelitian dan inovasi, peningkatan kapasitas SDM, serta program kolaboratif lainnya.
Selain itu, PTFI, UNCEN, dan Arizona State University turut menandatangani MoU guna meningkatkan kualitas pendidikan menuju akreditasi yang lebih tinggi. Kemudian, penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PTFI dengan UNCEN untuk Program Praktisi Mengajar akan meliputi kegiatan pembelajaran tematik, seminar, pelatihan, dan pendidikan karakter.
Presiden Direktur PTFI juga memberikan kuliah umum yang disambut antusias oleh para mahasiswa UNCEN dari beragam program studi. Dalam kuliah umum tersebut, mahasiswa mendapatkan pemaparan komprehensif mengenai sejarah PTFI dan operasional pertambangan, dari hulu hingga hilir.
Mereka juga memperoleh wawasan tentang kebutuhan industri terhadap SDM unggul, peluang karier bagi tenaga kerja Papua, serta kontribusi PTFI bagi pembangunan Papua dan Indonesia melalui berbagai program investasi sosial. Sesi ini menjadi forum interaksi aktif bagi mahasiswa dan Presdir PTFI untuk menggali wawasan praktis dunia industri.
Saat ini, tercatat sebanyak 332 alumni UNCEN bekerja sebagai tenaga kerja profesional di PTFI. Jumlah penerima manfaat beasiswa UNCEN dari Freeport mencapai 255 orang, dengan 51 mahasiswa masih aktif. Angka ini diharapkan terus bertambah, menunjukkan dampak signifikan sinergi industri dan akademisi dalam membentuk ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.