Para menteri energi dari negara-negara G7 mengadakan pertemuan virtual pada Selasa pagi untuk mengkaji kemungkinan pelepasan cadangan minyak. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap gangguan pasokan yang disebabkan oleh perang di Iran.
Sebelumnya, para menteri keuangan G7 telah bersidang pada hari Senin, namun belum mencapai keputusan terkait hal ini. G7 beranggotakan Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS).
Keputusan terkoordinasi untuk melepas cadangan minyak diperkirakan akan diambil setelah pertemuan para menteri energi. AS mengusulkan pelepasan antara 300 juta hingga 400 juta barel, yang setara dengan sekitar 25%-30% dari total cadangan 1,2 miliar barel yang dimiliki negara-negara G7.
"Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk mendukung pasokan energi global seperti melalui pelepasan stok cadangan," kata para menteri keuangan G7 dalam pernyataan bersama, dikutip dari CNBC, Selasa (10/3/2026).
Harga minyak sempat naik melebihi US$ 100 per barel akibat penutupan Selat Gormuz yang belum dapat dipastikan kapan akan dibuka kembali.
Namun, harga minyak mengalami koreksi pada hari Senin karena pasar mulai mengantisipasi pelepasan cadangan minyak. Minyak mentah AS diperdagangkan di sekitar US$ 95 per barel, sementara Brent berada sedikit di bawah US$ 100 per barel.
Penutupan Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan minyak yang signifikan. Sekitar 20% dari konsumsi minyak dunia biasanya dikirim melalui jalur laut tersebut.
Situasi saat ini berbeda dengan krisis energi sebelumnya karena tidak ada kapasitas produksi cadangan yang dapat segera menutupi kekurangan pasokan. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab praktis tidak dapat mengakses pasar minyak global akibat penutupan Selat Hormuz.
Cadangan minyak strategis AS juga dinilai tidak mencukupi untuk menggantikan seluruh pasokan yang terhambat di Teluk Persia. Saat ini, Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS menyimpan sekitar 415 juta barel, sekitar 58% dari kapasitas maksimalnya yang mencapai 714 juta barel, menurut Departemen Energi AS.
Para analis Rapidan memperkirakan bahwa negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) akan menghadapi tekanan besar untuk melepaskan cadangan minyak strategis mereka, karena langkah ini dianggap sebagai satu-satunya opsi respons pasokan yang tersisa.