Pandangan mengenai perbedaan gaya kepelatihan Timnas Indonesia di bawah tiga juru taktik berbeda telah disampaikan oleh pengamat sepak bola nasional, Binder Singh. Analisis ini mencakup pendekatan taktik serta karakteristik permainan skuad Garuda di era Patrick Kluivert, Shin Tae-yong, dan John Herdman, sebagaimana dikutip dari Bola.
Menurut Binder Singh, dalam siaran YouTube Nusantara TV, Patrick Kluivert menerapkan gaya bermain menyerang dengan tempo yang sangat cepat. Mantan penyerang timnas Belanda itu diketahui mendorong pemain untuk segera mengalirkan bola ke depan. Tujuannya adalah menciptakan tekanan ke lini pertahanan lawan. Namun, pendekatan ini dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan karakter pemain Indonesia. Jarak antar pemain yang kurang terjaga, ditambah tempo permainan yang terlalu tinggi, membuat skuad Garuda kesulitan menciptakan peluang berbahaya.
Binder Singh menyoroti kendala penerapan strategi Kluivert. "Secara konsep tidak salah, tapi pertanyaannya apakah pemain kita mampu bermain dengan tempo tinggi, passing-passing cepat ke depan dengan tidak menjaga jarak di antara satu sama lainnya?" ujarnya.
Berbeda dengan gaya Kluivert, Binder Singh mengamati bahwa John Herdman membawa pendekatan yang lebih luwes dan tenang. Di bawah asuhan Herdman, permainan Timnas Indonesia dinilai lebih terorganisir. Jarak antar pemain terlihat lebih rapat, dan mereka tidak terburu-buru dalam melancarkan umpan. Ini menciptakan suasana bermain yang lebih santai dan tanpa beban.
Dalam fase pembangunan serangan, Herdman sering mengandalkan tiga bek tengah. Ia juga memanfaatkan pemain sayap untuk turun membantu pertahanan saat diperlukan. "Tapi di bawah Herdman saya melihat para pemain jaraknya dekat dan mereka tidak terburu-buru memberikan umpan. Jadi mereka tidak bermain di bawah beban. Ini kalau kita bandingkan dengan Patrick Kluivert," jelas Binder.
Binder juga menambahkan perbandingan dengan Kluivert, "Kluivert sepertinya ingin Timnas kita bermain dengan formasi empat pemain bertahan. Awalnya dia coba empat pemain, kalah telak lawan Australia, dia balikin lagi ketiga centerback. Tapi tampaknya Kluivert ini keras kepala tetap mau mainnya empat pemain bertahan."
Sentuhan Shin Tae-yong yang Masih Terlihat
Perbandingan juga diberikan Binder Singh antara era Herdman dan Shin Tae-yong. Gaya menekan lawan dengan intensitas tinggi, yang merupakan ciri khas pelatih asal Korea Selatan itu, masih terlihat dalam permainan Timnas Indonesia hingga saat ini.
Di era Shin Tae-yong, Timnas Indonesia dikenal dengan permainan yang mengandalkan energi besar, pressing ketat, dan sepak bola reaktif. Strategi ini terbukti efektif ketika menghadapi tim-tim lawan yang kuat. "Shin Tae-yong ingin para pemain bermain dengan intensitas pressing yang sangat kuat. Pokoknya kalau ada pemain menguasai bola, tutup itu pemain. Tekel tapi bukan untuk pelanggaran. Tekel, ambil bola, dapat bola, switching play harus cepat," papar Binder.
Lebih lanjut, ia mengutarakan, "Dengan Shin Tae-yong, Timnas sering bermain defend and reactive football. Dia tahu bahwa pemain kita mayoritas pemain muda, punya level energi yang tinggi. Kalau kita bandingkan pressing dari Herdman, sama gilanya seperti era Shin Tae-yong." Binder juga mengakui tantangan Shin Tae-yong saat itu. "Sekarang para pemain sudah lebih matang. Pada saat era Shin Tae-yong banyak pemain baru masuk, terutama yang bermain di luar negeri atau diaspora. Enggak gampang juga bagi Shin yang pada saat itu mau membentuk chemistry."
John Herdman sendiri baru saja memimpin Timnas Indonesia dalam FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 27 dan 30 Maret lalu. Dalam dua pertandingan perdananya, skuad Garuda berhasil menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis sebelum takluk 0-1 dari Bulgaria.
Melihat debut tersebut, Binder Singh menyimpulkan, "Saya melihat para pemain kita enjoy the game, artinya pada saat pemain itu menikmati jalannya pertandingan, mereka nyaman dengan skema baru dari John Herdman yang saya melihat beda total." Ia menambahkan, "Dua laga awal saya merasa lega bahwa kita dapat pelatih yang tahu apa yang perlu dilakukan. Feeling saya Herdman sudah menonton juga pertandingan Timnas ketika dilatih Shin dan Timnas ketika dilatih Kluivert. Jadi tahu kekurangan dan kelebihan."