Harga Emas Dunia Hari Ini Cetak Sejarah Baru, Tembus US$5.500 dan Belum Tunjukkan Tanda Turun

Harga emas dunia kembali membuat pasar global terkejut. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, harga emas spot resmi menembus level psikologis US$5.500 per troy ons. Lonjakan ini menandai rekor tertinggi baru dan mempertegas posisi emas sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.

Pada perdagangan Kamis pagi (29/1/2026) hingga pukul 06.50 WIB, harga emas dunia hari ini di pasar spot tercatat menguat hampir 2 persen ke level US$5.506,86 per troy ons. Bahkan dalam sesi yang sama, emas sempat menyentuh harga intraday tertinggi di kisaran US$5.591 per troy ons sebelum mengalami sedikit koreksi teknikal.

Kenaikan ini bukan pergerakan sesaat. Sehari sebelumnya, Rabu (28/1/2026), emas sudah melonjak lebih dari 4 persen dan ditutup di level US$5.399,29 per troy ons. Artinya, harga emas telah menguat selama delapan hari perdagangan berturut-turut, sebuah reli yang jarang terjadi dalam sejarah pasar logam mulia.

Reli Emas Didorong Ketidakpastian Global

Lonjakan harga emas tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik dunia. Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat, tensi geopolitik yang belum mereda, serta kekhawatiran inflasi jangka panjang mendorong pelaku pasar mencari aset aman.

Emas kembali menjadi tujuan utama. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih stabil. Logam mulia pun menikmati arus masuk dana yang signifikan.

Peter Grant, Wakil Presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, menilai reli emas saat ini sudah berada dalam fase yang sangat kuat.

“Reli logam mulia kini sepenuhnya mengambil alih kendali pasar,” ujar Grant.

Meski demikian, Grant juga mengingatkan bahwa emas saat ini sudah berada di area jenuh beli dan berpotensi mengalami koreksi jangka pendek. Namun, setiap penurunan harga sejauh ini selalu dimanfaatkan investor untuk kembali masuk ke pasar.

The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Tetap Fokus ke Emas

Menariknya, pasar emas nyaris tidak bereaksi terhadap keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan tersebut sebenarnya sudah diperkirakan pelaku pasar, sehingga tidak menimbulkan kejutan berarti.

Ketua The Fed Jerome Powell juga tidak memberikan sinyal jelas terkait kapan suku bunga akan mulai diturunkan. Powell menegaskan bahwa inflasi masih berada di atas target 2 persen, meskipun pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih tergolong solid.

Namun, pernyataan ini justru memperkuat daya tarik emas. Ketidakpastian arah kebijakan moneter membuat investor memilih aset yang tidak bergantung pada imbal hasil bunga.

Tai Wong, pedagang logam independen, menilai pasar sama sekali tidak terganggu oleh sikap The Fed.

“Logam mulia tampaknya tidak peduli The Fed sedang berada dalam mode jeda. Seluruh kompleks logam justru terus diperdagangkan lebih tinggi,” kata Wong.

Perbedaan Pandangan di Internal The Fed

Di internal The Fed sendiri, perbedaan pandangan mulai mencuat. Gubernur Christopher Waller dan Gubernur Stephen Miran diketahui mendukung pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin persentase. Pandangan ini kontras dengan sikap mayoritas pejabat The Fed yang masih memilih berhati-hati.

Situasi ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. Investor pun kembali memposisikan emas sebagai alat perlindungan nilai jangka menengah hingga panjang.

Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan segera mengumumkan pengganti Jerome Powell juga menjadi faktor tambahan yang meningkatkan spekulasi di pasar.

Kinerja Emas Sejak Awal Tahun

Jika ditarik ke belakang, kinerja emas sepanjang tahun ini terbilang luar biasa. Sejak awal tahun 2026, harga emas dunia telah melonjak lebih dari 25 persen. Kenaikan ini melanjutkan tren positif tahun sebelumnya yang juga ditutup dengan rekor tertinggi.

Dalam kondisi suku bunga yang berpotensi turun di masa depan, emas secara historis memang cenderung berkinerja baik. Biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah saat imbal hasil instrumen berbunga melemah.

Tak hanya investor ritel dan institusi keuangan, minat terhadap emas juga datang dari sektor lain.

Kripto Mulai Lirik Emas Fisik

Fenomena menarik datang dari industri kripto. Tether, salah satu perusahaan kripto terbesar di dunia, mengumumkan rencana untuk mengalokasikan sekitar 10 hingga 15 persen portofolio investasinya ke emas fisik.

CEO Tether, Paolo Ardoino, menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan penguatan cadangan perusahaan. Tether bahkan mengklaim sudah memiliki cadangan emas batangan yang digunakan untuk mendukung beberapa produknya.

Langkah ini memperlihatkan bahwa emas masih dianggap relevan, bahkan di era aset digital.

Masih Ada Ruang Lanjut Naik?

Pertanyaan besar yang kini muncul di pasar adalah apakah reli emas masih akan berlanjut. Sejumlah analis menilai volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka pendek. Namun selama ketidakpastian global belum mereda, emas diperkirakan tetap mendapat dukungan kuat.

Meski potensi koreksi tetap ada, tren utama harga emas dunia saat ini masih bergerak naik. Investor global tampaknya belum kehilangan minat terhadap logam mulia, terutama sebagai pelindung nilai di tengah kondisi ekonomi yang penuh tanda tanya.

Dengan menembus level US$5.500 per troy ons, harga emas dunia hari ini bukan hanya mencetak sejarah, tetapi juga mengirim sinyal kuat tentang arah sentimen pasar global ke depan.

Recommended