Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Basis AS, Andalkan Drone Murah

Iran meluncurkan serangan balasan ke basis militer AS dan sekutu, menggunakan drone Shahed-136 yang murah dan efektif.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran meluncurkan serangan balasan ke sejumlah basis militer AS dan sekutu di kawasan Teluk, sebagai respons atas kematian pemimpin tertingginya, Khamenei.

Fasilitas militer di Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab menjadi sasaran serangan ini. Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain termasuk lokasi yang terdampak. Washington mengonfirmasi adanya korban jiwa dalam operasi militer tersebut.

Serangan balasan ini menyoroti jenis senjata yang digunakan Iran, yaitu drone murah dalam jumlah besar.

Iran mengandalkan Shahed-136, yang sering disebut sebagai kamikaze drone atau rudal jelajah sekali pakai berbiaya rendah, seperti dilansir dari Bloomberg. Drone ini, meskipun sederhana secara teknologi, terbukti efektif dalam strategi perang asimetris.

Shahed-136 diproduksi massal, berukuran kecil, dan dapat diluncurkan dari truk bergerak sehingga sulit dideteksi sebelum mencapai target. Biaya produksinya jauh lebih murah dibandingkan rudal balistik atau sistem pertahanan udara canggih seperti MIM-104 Patriot dan THAAD.

Dengan meluncurkan ratusan unit secara bersamaan, Iran berupaya membanjiri sistem pertahanan musuh. Bahkan jika sebagian besar drone berhasil ditembak jatuh, satu atau dua unit yang lolos dapat menimbulkan kerusakan signifikan.

Serangan Iran tidak dilakukan secara terus menerus, tetapi dalam gelombang kecil drone yang diselingi rudal balistik skala terbatas. Strategi ini memicu perdebatan di kalangan analis militer.

Sid Kaushal dari Royal United Services Institute berpendapat bahwa taktik ini mungkin disengaja. Menurutnya, "menyerap interceptor bisa menjadi tujuan utama," terutama jika stok rudal balistik Iran telah berkurang akibat serangan awal AS-Israel.

William Alberque dari Pacific Forum menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, Iran kemungkinan telah lama mendesentralisasi struktur militernya untuk mengantisipasi skenario decapitation strike—pembunuhan pimpinan tertinggi. Setelah kematian Khamenei dan sejumlah pejabat senior, komandan lapangan disebut telah memiliki daftar target dan instruksi sebelumnya untuk dijalankan secara mandiri.

Namun, ada juga analis yang melihat penggunaan drone murah sebagai indikasi keterbatasan. Serangan awal AS-Israel dilaporkan menghancurkan fasilitas penyimpanan rudal dan peluncur balistik Iran, sehingga Teheran kini lebih mengandalkan sistem yang lebih sederhana, fleksibel, dan mudah disembunyikan.

Mick Ryan dari Lowy Institute menekankan bahwa tidak ada sistem pertahanan udara yang 100% efektif. Volume serangan tinggi meningkatkan probabilitas keberhasilan, meskipun sebagian besar unit dicegat.

Recommended