Israel Hemat Rudal Pencegat Tercanggih Akibat Serangan Iran

Israel mulai membatasi penggunaan rudal pencegat canggihnya seperti Arrow. Ini dilakukan di tengah rentetan serangan Iran yang terus menguras persediaan pertahanan.

Israel kini membatasi penggunaan rudal pencegat tercanggihnya. Pembatasan ini dilakukan karena serangan berkelanjutan dari Iran telah menguras persediaan senjata negara tersebut. Meskipun terus digempur, jumlah rudal dan drone Iran dinilai masih memadai untuk melancarkan serangan berbahaya.

Sistem pertahanan udara Israel, yang dikenal sebagai salah satu yang paling mutakhir di dunia, sangat bergantung pada sistem Arrow untuk menangkis ancaman rudal balistik jarak jauh. Namun, penggunaan pencegat canggih tersebut kini mulai dihemat.

Israel beralih menggunakan versi David's Sling yang telah ditingkatkan kemampuannya, serta Iron Dome, untuk mengatasi ancaman yang awalnya tidak dirancang untuk ditangani sistem-sistem tersebut. Kedua sistem ini sebenarnya ditujukan untuk menangkal rudal jarak menengah dan pendek.

Sejak awal perang, Iran telah meluncurkan lebih dari 400 rudal bersama ratusan drone. Meski intensitas serangan menurun, ritme serangan yang stabil, ditambah tembakan harian dari Hizbullah, membebani pertahanan berlapis Israel. Kondisi ini menyebabkan beberapa rudal berhasil lolos. Selain itu, Iran juga terus menyerang infrastruktur di negara-negara Teluk.

Menurut informasi intelijen yang diperoleh Reuters, Amerika Serikat (AS) hanya dapat memastikan bahwa mereka telah menghancurkan sekitar sepertiga dari persediaan rudal Iran yang sangat besar. Padahal, perang antara AS-Israel melawan Iran sudah berlangsung sekitar sebulan.

Status sekitar sepertiga lainnya kurang jelas, namun pengeboman kemungkinan telah merusak, menghancurkan, atau mengubur rudal-rudal tersebut di dalam terowongan dan bunker bawah tanah. Sebuah sumber intelijen juga menyebutkan penilaian serupa untuk drone Iran, di mana sekitar sepertiga di antaranya telah dihancurkan.

Dikutip dari Detik iNET, penilaian tersebut menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar rudal Iran hancur atau tidak dapat diakses, mereka masih memiliki persediaan signifikan. Iran juga mungkin dapat menyelamatkan beberapa rudal yang terkubur atau rusak setelah pertempuran berhenti.

Informasi intelijen ini bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran "hanya menyisakan sedikit roket." Meski demikian, Trump tampaknya mengakui ancaman dari sisa rudal dan drone Iran terhadap operasi AS di masa mendatang untuk mengamankan Selat Hormuz yang vital secara ekonomi.

Serangan AS telah menghantam lebih dari 10.000 target militer Iran menurut Komando Pusat (Central Command), dan menenggelamkan 92% kapal besar angkatan laut Iran. Meskipun demikian, Komando Pusat menolak untuk menyatakan secara pasti berapa banyak kemampuan rudal atau drone Iran yang telah dihancurkan.

Salah satu sumber mengatakan bahwa sebagian masalahnya adalah sulitnya menentukan berapa banyak rudal Iran yang ditimbun di bawah tanah sebelum perang. Seorang pejabat senior AS menyuarakan skeptisisme mengenai kemampuan AS menilai kemampuan rudal Iran secara tepat. "Saya tak tahu apakah kita akan pernah memiliki angka yang akurat," katanya.

Sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Kuwait, Al-Salmi, dilaporkan diserang dan terbakar di lepas pantai Dubai pada hari Senin, 31 Maret 2026. Peristiwa ini terjadi di tengah peringatan Presiden Donald Trump bahwa AS akan menghancurkan pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz.

Serangan terhadap kapal Al-Salmi merupakan insiden terbaru dalam serangkaian serangan terhadap kapal dagang oleh rudal atau drone udara dan laut di Teluk dan Selat Hormuz. Serangan-serangan ini telah terjadi sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Menurut OECD, konflik yang berlangsung selama sebulan ini telah menggagalkan pertumbuhan ekonomi global. Perang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, menewaskan ribuan orang, mengganggu pasokan energi, dan mengancam akan menjerumuskan ekonomi global ke dalam kemerosotan.

Harga minyak mentah sempat melonjak setelah serangan terhadap kapal tanker tersebut, yang dapat mengangkut sekitar 2 juta barel minyak senilai lebih dari 200 juta dolar AS dengan harga saat ini. Kuwait Petroleum Corp, pemilik kapal, mengatakan serangan terjadi pada Selasa pagi, menyebabkan kebakaran dan kerusakan lambung kapal, namun tidak ada laporan korban luka. Otoritas Dubai berhasil mengendalikan api setelah serangan drone tersebut.

Lonjakan harga minyak dan bahan bakar mulai membebani keuangan rumah tangga AS dan menjadi masalah politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu November 2026. Harga rata-rata bensin eceran nasional AS melampaui $4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun pada hari Senin, menurut data dari layanan pelacakan harga GasBuddy, karena pasokan global yang semakin ketat mendorong harga minyak mentah AS di atas $101 per barel.

Peringatan Trump dan Respons Iran

Tak lama setelah pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, Trump menyampaikan ancaman baru terkait Selat Hormuz. Baghaei sebelumnya mengatakan bahwa proposal perdamaian AS "tidak realistis, tidak logis, dan berlebihan," serta menegaskan Iran fokus pada pertahanan diri.

Trump menyatakan kemajuan besar telah dicapai dalam negosiasi dengan "rezim yang lebih masuk akal." Namun, ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak segera tercapai, AS akan "meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg mereka," serta mengancam menyerang pabrik desalinasi Iran.

Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump telah menyatakan kepada para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri kampanye militer bahkan jika selat tersebut sebagian besar tetap tertutup. Ini membantu harga minyak turun dan mengangkat pasar saham karena investor berharap konflik segera berakhir. Gedung Putih merujuk pada komentar Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang mengatakan selat itu akan terbuka "dengan satu atau lain cara" setelah operasi militer AS.

Gedung Putih juga mempertimbangkan untuk meminta negara-negara Arab membayar biaya perang, dan meminta tambahan dana sebesar 200 miliar dolar AS untuk perang tersebut. Permintaan ini menghadapi penentangan keras di Kongres AS.

Jet Tempur Inggris Tembak Jatuh Drone Iran

Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan bahwa jet-jet tempur Angkatan Udara Kerajaan (RAF) yang beroperasi di area berisiko tinggi di kawasan Timur Tengah berhasil menembak jatuh sejumlah drone Iran. Insiden ini terjadi semalam, dilansir dari Anadolu Agency pada Selasa, 31 Maret 2026.

Dalam pembaruan harian mengenai aktivitas militer Inggris di Timur Tengah selama perang AS-Israel melawan Iran, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa drone-drone tersebut dihancurkan oleh penembak Resimen RAF. Jet tempur Typhoon dan F-35 milik RAF, bersama dengan helikopter Wildcat, melanjutkan misi pertahanan di Siprus, Yordania, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kementerian Pertahanan Inggris menambahkan bahwa pilot dan awak pesawat Inggris telah melampaui 1.200 jam terbang selama operasi militer di kawasan tersebut, sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Meskipun tidak menyebutkan detail jumlah drone yang ditembak jatuh, pada Minggu, 29 Maret 2026, penembak Resimen RAF dilaporkan telah menembak jatuh tujuh "drone serang satu arah" milik Iran.

Kawasan Timur Tengah berada dalam siaga sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Total sedikitnya 1.340 orang tewas akibat rentetan serangan AS-Israel di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini memicu kerusakan dan korban jiwa, termasuk sedikitnya 13 tentara AS yang tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka di negara-negara Teluk.

Recommended