Jejak Karier Unik Ricky Nelson: Dari Teologia ke Pelatih Sepak Bola

Ricky Nelson, pelatih sepak bola yang sempat memimpin Persija Jakarta, memiliki perjalanan karier unik dari Teologia ke lapangan hijau.

Perjalanan karier Ricky Nelson di dunia sepak bola menunjukkan keunikan tersendiri. Pria kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 25 Juli 1980 ini awalnya memiliki ambisi untuk menjadi seorang pemain sepak bola profesional.

Namun, kondisi dan situasi yang terjadi di masa lalu membawanya menempuh jalur yang berbeda. Ali-alih mengejar impian sebagai pemain, Ricky Nelson justru beralih ke futsal dan langsung memulai kariernya sebagai pelatih, seperti dilansir dari Bola.

Aspek menarik lainnya adalah penguasaan ilmu sepak bola yang ia dalami justru saat menempuh pendidikan di jurusan Teologia. Ricky Nelson mengakui bahwa perjalanan kariernya hingga dikenal seperti sekarang ini penuh dengan berbagai liku.

Berkat kerja keras dan perjuangannya, Ricky Nelson berhasil meraih berbagai pencapaian manis. Ia pernah dipercaya sebagai pelatih sementara Persija Jakarta, Direktur Akademi Persija, pelatih kepala Persipura Jayapura, pelatih kepala Sulut United, hingga pelatih kepala tim PON NTT.

Ricky Nelson menceritakan lebih lanjut mengenai jalur kariernya yang dianggap 'berbelok-belok' melalui kanal YouTube Sport77 Official.

Menurutnya, keterlibatannya di sepak bola dimulai sejak tahun 2009. Namun, sebelum itu, ia harus melalui serangkaian proses yang tidak mudah. "Di 2009 sebenarnya. Itu saya keluar dari NTT tahun 1998 pas lagi rusuh-rusuhnya. Habis SMA ke Jakarta. Di Jakarta kuliah, ya sambil cari-cari kesempatanlah mau main bola," kata Ricky Nelson.

Ricky menambahkan bahwa pada era 1997/1998, kompetisi sempat berhenti, membuatnya harus memikirkan kembali langkahnya. Ketika mencoba lagi pada 2000-2001, ia merasa sudah terlambat karena seleksi saat itu tidak semudah sekarang yang bisa diakses melalui internet dan media sosial.

Lompatan ke Dunia Futsal

Melihat sulitnya menembus dunia sepak bola profesional, Ricky Nelson kemudian beralih fokus ke futsal. Di sanalah ia bertemu dengan Justin Lhaksana, yang dikenal sebagai mantan pelatih Timnas Futsal Indonesia.

Ia menjelaskan sulitnya masuk tim sepak bola pada masa itu, terutama bagi anak daerah dari NTT yang belum memiliki klub dan tidak pernah lolos PON. "Yang terkenal waktu itu cuma satu pemain saja, yakni Adnan Mahing. Dia main di Persikota sama Pak Rahmad Darmawan," ujarnya.

"Ya sudahlah, akhirnya saya berpikir, saya lari ke futsal dulu malah. Nanti bisa tanya Justin Lhaksana. Saya 2001 masuk pelatih futsal malah, di Kelme Futsalismo pertama," kenang Ricky Nelson. Ia juga menyebut dirinya sebagai salah satu angkatan pertama pelatih futsal di Indonesia, bersama Donni Zola (Donzol) dan beberapa nama lain di masa awal futsal populer.

Memilih Jalan Pelatih di Usia Muda

Meskipun usianya masih terbilang muda saat memutuskan menjadi pelatih futsal, Ricky Nelson tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Pada usia 21-22 tahun, ia mengambil keputusan untuk fokus menjadi pelatih, di saat futsal mulai berkembang pesat di Indonesia.

Ia merasa tidak memiliki prospek cerah sebagai pemain sepak bola karena kendala fisik. "Ambil futsal karena di sepak bola merasa enggak jalan nih. Enggak laku kayaknya. Ya, usia 21 – 22 tahun memutuskan untuk menjadi pelatih. Itu futsal masih ramai. Baru masuk," ungkap Ricky Nelson. Ia menyadari bahwa melatih lebih cocok baginya daripada menjadi pemain.

Pendidikan Teologia dan Inspirasi Olahraga

Ricky Nelson sempat memiliki harapan menjadi pesepak bola, namun mimpi itu pupus setelah tim daerahnya, PSK Kupang, kalah di ajang Suratin. Setelah itu, ia memutuskan untuk fokus kuliah sambil mencari kesempatan lain.

Yang unik, Ricky Nelson tidak memilih fakultas keolahragaan, melainkan melanjutkan studi di jurusan Teologia atau sekolah pendeta. "Beda nih. Kuliah saya Teologia sebenarnya. Sekolah pendeta. Jadi kalau diceritain belok-belok sebenarnya," kata Ricky Nelson.

Saat menjalani kuliah Teologia di gereja, ia bertemu dengan seorang dari Inggris yang kemudian mendirikan Inspire Bandung di Lembang. Dari pertemuan tersebut, Ricky Nelson terlibat dalam sebuah komunitas yang mengajarkan pelayanan ke olahraga atau 'sport ministry'. Ia tertarik dan belajar banyak hal, termasuk motivasi atlet di Olimpiade, sebelum akhirnya kembali menekuni sepak bola.

Recommended