Insiden hancurnya pesawat sistem peringatan dan kendali udara (AWACS) E-3 Sentry milik Amerika Serikat akibat serangan Iran di pangkalan udara Arab Saudi telah menimbulkan banyak pertanyaan, terutama mengenai perlindungan aset krusial tersebut dan kemampuan Iran melancarkan serangan langsung. Pesawat E-3 Sentry sendiri adalah satu dari 16 unit yang masih beroperasi, pertama kali diproduksi pada tahun 1960-an, dilengkapi dengan sistem pemantauan canggih yang mampu mendeteksi ancaman udara seperti rudal serta memantau area pertempuran.
Serangan yang menghancurkan pesawat buatan Boeing pada 27 Maret saat diparkir di pangkalan udara Prince Sultan, menyoroti kapabilitas Iran dalam menyerang dan menghantam target bernilai tinggi secara akurat. Peristiwa ini terjadi meskipun AS dan Israel telah melakukan serangan udara selama sebulan. Menurut laporan Detik iNET, foto-foto dari lokasi kejadian menunjukkan bahwa serangan tersebut juga melukai beberapa tentara AS dan merusak pesawat pengisian bahan bakar. Hantaman langsung pada kubah radar E-3 di dekat ekor pesawat mengindikasikan tingkat akurasi yang tinggi.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan bahwa intelijen Ukraina memiliki informasi mengenai satelit mata-mata Rusia yang memotret pangkalan tersebut tiga kali sebelum serangan, yaitu pada 20 Maret, 23 Maret, dan 25 Maret. Hal ini menimbulkan dugaan adanya bantuan dari Rusia kepada Iran. "Kami tahu bahwa jika mereka mengambil gambar sekali, mereka sedang bersiap. Jika mereka mengambil gambar untuk kedua kalinya, itu seperti simulasi. Ketiga kalinya berarti bahwa dalam satu atau dua hari, mereka akan menyerang," ujar Zelensky.
Komentar Zelensky muncul setelah laporan awal bulan ini yang menuduh Rusia memberikan informasi intelijen kepada Iran mengenai lokasi pasukan AS di Timur Tengah, sebuah klaim yang telah dibantah oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Pesawat yang diparkir, tidak seperti fasilitas tetap, merupakan target sensitif waktu karena dapat dengan cepat lepas landas. Oleh karena itu, kemampuan Iran dalam menemukan dan menyerang target dalam waktu singkat menunjukkan efisiensi tinggi pada rantai serangan mereka, mulai dari deteksi, identifikasi, pengambilan keputusan, hingga eksekusi.
Zhang Junshe, seorang ahli militer, kepada media pemerintah China, Global Times yang dikutip Detik iNET, menyatakan bahwa ketepatan waktu dan respons cepat Iran menunjukkan mereka memiliki kemampuan pengawasan waktu nyata, peringatan dini, dan akuisisi target yang relatif kuat. Mengenai bagaimana hal ini dicapai, Zhang menilai kemungkinan besar merupakan hasil pengumpulan intelijen berlapis, seperti pelacakan satelit yang dikombinasikan dengan platform udara seperti drone atau pesawat pengintai untuk pengawasan terus-menerus. Selain itu, kemungkinan intelijen manusia atau infiltrasi internal juga tidak dapat dikesampingkan.
Pesawat E-3 sendiri telah menua dan menghadapi masalah pemeliharaan. Situs web Air and Space Forces menyebutkan bahwa pada tahun 2024, kesiapan misi pesawat E-3 AU AS berada di sekitar 56%, yang berarti hanya sekitar separuh armada yang mampu terbang dan menjalankan misi. Pesawat ini memiliki kemampuan untuk melacak hingga 600 target secara bersamaan di area yang luas, berfungsi sebagai mata dan telinga bagi pilot pesawat tempur. Harga pesawat E-3 saat ini diperkirakan sekitar USD 540 juta atau sekitar Rp 9 triliun.
Heather Penney, mantan pilot F-16, menyatakan, "Kehilangan E-3 ini sangat problematis, mengingat betapa pentingnya untuk segala hal, mulai dekonfliksi wilayah udara, dekonfliksi pesawat, penargetan, dan memberi efek mematikan lainnya yang dibutuhkan seluruh pasukan di pertempuran." Meskipun para komandan AS dan Israel mengklaim adanya penurunan kemampuan Iran dalam menembakkan rudal, Iran terbukti masih mampu menargetkan komponen penting kekuatan udara AS, termasuk sistem radar dan pesawat penting seperti E-3 Sentry.