Leeds United menyampaikan kekecewaannya setelah sebagian suporter mencemooh jeda singkat yang diberikan untuk pemain Muslim berbuka puasa saat laga melawan Manchester City di Elland Road, Sabtu lalu.
Pertandingan Premier League yang dimulai pukul 17.30 GMT itu dihentikan sejenak pada menit ke-13. Pemain dari kedua tim menepi untuk mengonsumsi cairan dan suplemen energi. Namun, siulan dan sorakan negatif terdengar dari tribune selama jeda berlangsung.
Sehari setelah pertandingan, kolom komentar media sosial Leeds dibanjiri pesan terkait Ramadan dan reaksi suporter. Beberapa penggemar juga mengirimkan email ke klub, menyampaikan kemarahan atas tidak adanya respons publik langsung. Seorang suporter mengaku "sangat terganggu" dan "malu" dengan kejadian itu.
Dalam email balasan standar dari petugas liaison suporter Leeds, klub menyatakan, "Klub menyadari insiden tersebut dan mengecewakan bahwa beberapa suporter memilih untuk mencemooh selama jeda permainan untuk memberi kesempatan pemain yang menjalankan Ramadan berbuka puasa."
Klub saat ini sedang menyelidiki mengapa hal ini terjadi dan apa yang bisa dilakukan ke depannya untuk mencegah insiden serupa terulang kembali.
Menjelang laga melawan Sunderland, manajer Leeds, Daniel Farke, turut berkomentar. Ia mengakui bahwa jika ada unsur ketidakhormatan, semua pihak harus belajar dari kejadian tersebut.
"Sejujurnya, jika itu benar-benar tidak menghormati dalam konteks jeda tersebut, maka kita semua harus belajar dari hal ini," kata Farke.
Farke mengaitkan situasi tersebut dengan pengalaman pertemuan sebelumnya di Etihad Stadium pada November. Ia menuding kiper City berpura-pura cedera untuk "membengkokkan aturan" agar Pep Guardiola bisa memanggil pemainnya ke pinggir lapangan.
"Saya tidak yakin semua orang menyadari ketika matahari terbenam dan kami memainkan laga pertama melawan Manchester City dan ada penghentian ketika Pep mengumpulkan semua pemainnya dan berbicara kepada mereka," ujar Farke.
Farke menambahkan bahwa suporter mungkin merasa mereka melakukan hal yang sama seperti di pertandingan pertama, sehingga mencemooh. Ia tidak yakin itu ada hubungannya dengan jeda Ramadan.
"Jika dari sudut pandang sebagian orang itu dianggap tidak menghormati, maka itu tidak dapat diterima dan kami harus belajar darinya. Secara umum, sepak bola dan ruang ganti kami adalah tempat terbaik untuk hidup bersama dengan paspor dan agama yang berbeda," kata Farke.
Klub mengakui secara internal bahwa komunikasi kepada suporter sebelum laga melawan Man City kurang memadai. Leeds berencana memberikan informasi lebih jelas sebelumnya jika jeda serupa kembali terjadi, termasuk dalam laga Piala FA melawan Norwich City akhir pekan ini.
Penjelasan di Stadion
Wasit Peter Bankes meniup peluit pada babak pertama untuk menghentikan pertandingan. Awalnya, suporter tampak bingung dengan alasan penghentian tersebut.
Sebuah pesan kemudian ditampilkan di layar stadion: pertandingan dihentikan sementara karena berlangsung di bulan suci Ramadan, guna memberi kesempatan pemain berbuka puasa. Namun, tidak semua penonton dapat melihat layar tersebut dan sorakan justru makin keras.
Man City menurunkan tiga pemain Muslim sebagai starter; Rayan Cherki, Rayan Ait-Nouri, dan Omar Marmoush, dengan Abdukodir Khusanov di bangku cadangan.
Guardiola mengecam aksi tersebut dan menekankan pentingnya saling menghormati. "Ini dunia modern, bukan? Anda lihat apa yang terjadi di dunia saat ini. Hormati agama, hormati keberagaman, itu intinya," kata Guardiola.
Kelompok anti-diskriminasi Kick It Out juga menyebut cemoohan itu sebagai sesuatu yang sangat mengecewakan.
Asisten pelatih Leeds, Eddie Riemer, menambahkan setelah laga bahwa tim mencoba belajar dari hal ini dan harus melakukan yang lebih baik lain kali.