Klub sepak bola Lille Olympique Sporting Club (Lille OSC), yang dikenal di Indonesia karena bek sayap Tim Garuda Calvin Verdonk, mengalami transformasi signifikan. Beberapa tahun lalu, klub Prancis ini nyaris bangkrut, namun kini berhasil bangkit menjadi salah satu yang paling menguntungkan di Eropa, dilansir dari Bola.
Perubahan nasib luar biasa ini merupakan hasil dari restrukturisasi radikal dan visi manajemen yang terencana. Pada Desember 2020, saat grup investor Merly Partners mengambil alih, kondisi finansial klub sangat mengkhawatirkan.
Presiden klub, Olivier Letang, mengakui situasi kala itu sangat kelam. Ia menyebut bahwa klub "hampir berada dalam situasi bangkrut" karena tumpukan utang luar negeri dengan suku bunga tinggi dan biaya transfer pemain yang tidak berkelanjutan.
Maren Schirmer, pendiri Merlyn sekaligus anggota dewan direksi Lille, menjelaskan akar permasalahan tersebut. "Klub dibiayai oleh seseorang dengan utang luar negeri sekitar 200 juta euro, dengan suku bunga yang sangat tinggi. Jadi, jika Anda berada dalam posisi yang tidak bisa melunasi utang itu secara bertahap, jumlahnya akan membengkak dengan sangat cepat," ujar Schirmer.
Langkah pertama kepemimpinan baru adalah menunjuk Olivier Letang sebagai presiden untuk memimpin perombakan total. Letang mengambil keputusan berani dengan memangkas skuad, dari lebih dari 60 pemain menjadi sekitar 23–24 pemain.
Tindakan ini, menurutnya, tidak hanya meningkatkan kualitas latihan, tetapi juga membuka jalur yang jelas bagi pemain muda untuk menembus tim utama. Fokus klub juga diarahkan pada aspek manusiawi dalam pengembangan setiap pemain.
Keberhasilan mereka dalam mengelola talenta seperti Lucas Chevalier dan Carlos Baleba menjadi bukti strategi ini. Letang menekankan pentingnya visi jangka panjang: "Ini adalah pertanyaan tentang strategi, visi, perencanaan skuad, dan bagaimana kami mengatur segalanya. Kami ingin menciptakan nilai bagi aset kami," tuturnya.
Revitalisasi Akademi dan Identitas Klub
Selain perampingan skuad, Lille juga merevitalisasi akademi mereka di Domaine de Luchin. Bagi pemilik klub, akademi adalah fondasi kunci untuk membangun identitas yang kuat dan ikatan emosional dengan kota Lille.
Meskipun klub terkadang harus menjual talenta muda menjanjikan seperti Leny Yoro, Schirmer memandang hal ini sebagai bagian dari tanggung jawab jangka panjang. "Dalam dunia ideal, kita ingin semua orang tetap bersama kita," kata Schirmer.
Namun, dalam konteks keberlanjutan klub, penjualan pemain menjadi penting. "Sangat penting sesekali, seorang pemain pergi," lanjutnya. Schirmer juga menambahkan bahwa terkadang adil bagi pemain ketika mereka mencapai titik tertentu dan klub besar memanggil, mereka harus diizinkan pergi.
Keseimbangan Pengalaman dan Masa Depan
Untuk menyeimbangkan talenta muda yang dihasilkan akademi, Lille juga mendatangkan pemain berpengalaman seperti Olivier Giroud. Letang yakin kombinasi semangat pemain muda dan pengalaman pemain senior merupakan resep sukses di lapangan.
"Dalam hidup, ada satu hal yang tidak bisa Anda beli: pengalaman. Jika Anda ingin memenangkan pertandingan, Anda harus memiliki keseimbangan ini," jelas Letang.
Kini, Lille telah berhasil membangun budaya sepak bola yang tangguh. Dengan fondasi finansial yang sehat dan profit konsisten selama empat tahun terakhir, Lille membuktikan bahwa manajemen yang tepat dapat mengubah sebuah klub menjadi entitas yang berkelanjutan dan kompetitif di panggung Eropa.
"Saat Anda tiba di klub kami, Anda tahu persis apa DNA-nya, apa nilainya, yaitu berjuang, berlari, pantang menyerah, dan solidaritas," pungkasnya, menggambarkan nilai-nilai inti klub tersebut.