Liverpool Mengecam Keras Tindakan Rasisme Terhadap Konate

Liverpool mengutuk keras pelecehan rasial yang dialami Ibrahima Konate dan mendesak media sosial bertindak tegas.

Liverpool menyampaikan kecaman keras atas tindakan pelecehan rasial yang ditujukan kepada bek mereka, Ibrahima Konate. Klub menyebut tindakan tersebut menjijikkan dan tidak dapat diterima.

Konate menjadi target serangan rasial di media sosial setelah laga Liga Champions melawan Galatasaray, menyusul insiden dengan Victor Osimhen yang menyebabkan cedera pada sang striker.

Liverpool menegaskan bahwa pelecehan tersebut tidak manusiawi, pengecut, dan berakar pada kebencian. Klub mendesak platform media sosial untuk mengambil langkah tegas dalam memberantas praktik serupa.

"Para pemain kami bukanlah target. Mereka adalah manusia. Pelecehan yang terus diarahkan kepada pemain, yang sering kali dilakukan melalui akun anonim, merupakan noda bagi sepak bola dan juga platform yang membiarkannya terus terjadi," demikian pernyataan resmi Liverpool.

Klub menilai perusahaan media sosial memiliki kemampuan dan teknologi untuk mencegah penyebaran konten kebencian.

"Membiarkan kebencian rasial menyebar tanpa kendali adalah sebuah pilihan, dan pilihan itu terus merugikan pemain, keluarga, serta komunitas dalam sepak bola."

Liverpool memastikan akan memberikan dukungan penuh kepada Konate dan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengidentifikasi pelaku.

Sebelumnya, empat pemain Premier League lainnya juga menjadi sasaran pelecehan rasial dalam satu akhir pekan. Wesley Fofana (Chelsea), Hannibal Mejbri (Burnley), Tolu Arokodare (Wolverhampton Wanderers), dan Romaine Mundle (Sunderland) membagikan pesan rasis yang mereka terima.

Organisasi anti-diskriminasi, Kick It Out, kembali menyerukan tindakan nyata dari platform digital untuk mengatasi masalah ini di level tertinggi sepak bola. Jess Carter, bek Timnas Inggris, juga menjadi korban pelecehan rasial online selama Euro Wanita 2025.

Liverpool menutup pernyataan mereka dengan menegaskan, "Situasi seperti ini tidak bisa terus dibiarkan. Ini harus dihadapi, dilawan, dan dihapuskan, bukan besok, tetapi sekarang."

Recommended