Madura United Hadapi Tantangan Berat Cari Pelatih Baru di Tengah Krisis Performa

Madura United berada di zona degradasi BRI Super League 2025/2026 dan kesulitan mendapatkan pelatih baru karena berbagai kendala, termasuk regulasi dan situasi internasional.

Madura United kini menghadapi periode sulit setelah gagal meraih kemenangan dalam 11 pertandingan terakhir di ajang BRI Super League 2025/2026. Hasil buruk ini membuat klub berjuluk Laskar Sape Kerrab tersebut terperosok ke zona degradasi, sebuah situasi pelik yang menuntut manajemen untuk segera bertindak, seperti dilansir dari Bola.

Meskipun kondisi tim jauh dari ideal, Manajer Madura United, Umar Wachdin, melihat adanya potensi kebangkitan. Ia menyoroti performa dominan tim saat melawan Borneo FC pada 5 April 2026, yang dinilai dapat mengembalikan kepercayaan diri para pemain, meskipun skor akhir tidak memihak.

Umar menegaskan bahwa proses kebangkitan tim tidaklah mudah, mengingat semua klub juga berupaya untuk meningkatkan performa. "Membalikkan situasi yang tidak baik ini bukan perkara mudah karena semua tim juga mau berubah. Tapi, yang paling penting adalah kami tetap percaya proses ini akan segera berlalu," ujarnya.

Di tengah tekanan untuk keluar dari zona merah, Madura United dihadapkan pada masalah besar lainnya: pencarian pelatih baru. Regulasi I.League hanya memperbolehkan tim dipimpin oleh seorang caretaker selama satu bulan. Jika melebihi batas waktu tersebut, klub akan dikenai denda sebesar Rp100 juta per pertandingan.

Manajemen sebenarnya telah berusaha merekrut mantan pelatih Arema FC, Joel Cornelli. Namun, upaya tersebut terkendala izin dari Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) karena Cornelli masih terikat kontrak sebagai pelatih Timnas Malaysia putri.

Hingga saat ini, Madura United masih berburu pelatih dari luar negeri. Umar Wachdin mengakui bahwa situasi geopolitik, khususnya perang di Timur Tengah, menyulitkan rencana mereka. Penerbangan dari Eropa atau Amerika Selatan harus transit di wilayah tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia, menciptakan hambatan dalam proses perekrutan.

Opsi pelatih yang tersedia di Indonesia maupun Asia Tenggara dinilai belum memenuhi standar kualitas yang diinginkan manajemen, sehingga mereka memilih untuk bersabar dan tidak terburu-buru. "Kami akan terus mencari karena dibatasi regulasi dalam satu bulan. Tetapi, tim ini kan tidak boleh idle atau dalam status quo. Kami usahakan terus berprogres dengan apa yang tersedia saat ini. Sementara belum ada kandidat pasti," tegas Umar.

Potensi Mempertahankan Rakhmat Basuki

Salah satu solusi yang dipertimbangkan manajemen adalah mempermanenkan Rakhmat Basuki, yang akrab disapa RB. Sosok asal Pamekasan ini bukan nama asing bagi Madura United; ia sering ditunjuk sebagai caretaker dalam masa transisi dan dianggap mampu mendongkrak performa tim.

"Saya setuju di bawah RB tim ini jadi lebih baik. Itu menjadi salah satu opsi yang kami pertimbangkan," kata Umar. Namun, keputusan ini terbentur pada regulasi lisensi kepelatihan yang ketat. Rakhmat Basuki belum mengantongi lisensi AFC Pro, yang merupakan syarat wajib bagi pelatih di BRI Super League 2025/2026. Manajemen Madura United menyatakan akan terus mencari solusi agar tetap patuh pada aturan yang berlaku.

Recommended