Manchester City Terpuruk di Liga Champions dan Liga Inggris

Manchester City menghadapi rentetan masalah, termasuk terancam gagal di Premier League dan tersingkir dari Liga Champions 2025/2026.

Manchester City tengah menghadapi periode sulit. Setelah terancam gagal meraih gelar Premier League 2025/2026, mereka juga tersingkir dari Liga Champions musim ini.

Di Premier League, hingga pekan ke-30, The Citizens berada di posisi kedua dengan 61 poin, tertinggal sembilan poin dari Arsenal yang memimpin dengan 70 poin.

Perjalanan di Liga Champions juga berakhir pahit bagi pasukan Pep Guardiola. Mereka dihentikan Real Madrid di babak 16 besar, kalah dalam dua pertemuan.

Pada laga di Santiago Bernabeu, Erling Haaland dan rekan-rekannya menyerah tiga gol tanpa balas. Saat menjamu Los Blancos di Etihad Stadium, mereka kembali takluk 1-2.

Dua hasil buruk ini menambah beban City, yang masih terjerat kasus 115 dakwaan terkait pelanggaran keuangan yang belum menemui titik terang sejak Februari 2023.

Manchester City dan Premier League masih menanti putusan akhir terkait 115 dakwaan yang menjerat klub sejak Februari 2023. Tuduhan tersebut berkaitan dengan dugaan pelanggaran aturan keuangan dalam rentang waktu 2009 hingga 2018.

CEO Premier League, Richard Masters, menekankan pentingnya proses hukum untuk menjaga integritas kompetisi. "Tidak ada alternatif yang lebih baik daripada menegakkan aturan, prinsip itu tidak boleh dikorbankan hanya karena terlalu sulit atau mahal," ujar Masters.

Pengacara olahraga Simon Leaf menggambarkan kasus ini sebagai yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola, mengingat jumlah dakwaan dan skala permasalahannya.

Sidang terhadap Manchester City telah berlangsung sejak September 2024 selama sekitar 10 minggu. Meskipun ada harapan keputusan akan segera keluar, belum ada kepastian hingga saat ini. Kompleksitas kasus dan banyaknya bukti yang harus ditinjau menjadi alasan lamanya proses ini.

Rincian Dakwaan Terhadap Manchester City

Kasus Manchester City mencakup 115 dakwaan yang terbagi dalam lima kategori utama:

  • 54 pelanggaran terkait kegagalan memberikan laporan keuangan yang akurat (2009–2018)
  • 14 pelanggaran terkait ketidakakuratan rincian pembayaran pemain dan manajer
  • 5 pelanggaran aturan UEFA termasuk Financial Fair Play (FFP)
  • 7 pelanggaran aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR)
  • 35 pelanggaran karena tidak bekerja sama dalam investigasi (2018–2023)

Pembelaan kuat dari pihak City turut memengaruhi lamanya proses hukum. Pengacara Yasin Patel menyebut tim hukum klub sebagai “tim super” yang belum pernah dihadapi sebelumnya oleh Premier League.

Patel menambahkan, "Ada banyak hal yang dipertaruhkan bagi Liga Premier dan juga Manchester City."

Bahkan, beberapa laporan media menyebut jumlah dakwaan bisa mencapai lebih dari 115, yang menunjukkan betapa luasnya cakupan kasus ini.

Pendekatan agresif City dalam membela diri, termasuk menyerang balik argumentasi Premier League, juga memperpanjang proses persidangan. Kedua belah pihak bersikeras mempertahankan posisi mereka dalam kasus besar ini.

Penyebab Kasus Berlarut-larut

Kompleksitas kasus City dinilai lebih tinggi dibandingkan kasus Nottingham Forest dan Everton, yang hanya melibatkan satu pelanggaran aturan keuangan (PSR) dengan bukti yang relatif sedikit.

Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire memperkirakan kasus City melibatkan ratusan ribu dokumen bukti, jauh lebih banyak dibandingkan sekitar 50.000 bukti pada kasus lainnya. Hal ini menyebabkan proses peninjauan oleh komisi memakan waktu lama.

Selain itu, proses berlangsung tertutup tanpa kebocoran informasi. Meski banyak pihak menilai prosesnya terlalu lama, Premier League menekankan bahwa keputusan tidak bisa dipercepat demi menjaga akurasi dan keadilan.

Recommended