Mohamed Salah Tinggalkan Liverpool: Keputusan Tepat?

Keputusan Mohamed Salah meninggalkan Liverpool dinilai tepat bagi dirinya dan klub. Ia dikenal sebagai pribadi yang gemar belajar.

Kepergian Mohamed Salah dari Liverpool di akhir musim menimbulkan pertanyaan apakah ini adalah langkah yang tepat untuk kedua belah pihak.

Di balik statusnya sebagai bintang lapangan hijau, Salah dikenal sebagai sosok yang gemar belajar. Ia berusaha memahami dunia di sekitarnya dengan membaca berbagai buku.

Salah bahkan tak jarang menghubungi langsung para penulis. Seorang akademisi asal Mesir terkejut menerima telepon dari Salah, membahas tulisan akademisnya tentang hubungan tubuh dan pikiran.

Akademisi itu tak menyangka tulisannya dibaca di luar kampus Kairo. Percakapan mereka terhenti karena kesibukan akademisi tersebut, namun menunjukkan keseriusan Salah memaksimalkan potensi diri.

Di luar lapangan, Salah memahami sastra Afrika dan filsafat. Ia tertarik pada hal-hal yang dapat meningkatkan performanya di lapangan. Salah juga memahami ungkapan intelektual Kenya, Patrick Lumumba, tentang "penari yang baik harus tahu kapan meninggalkan panggung".

Meski merasa masih mampu tampil baik, Salah menyadari pentingnya pergi saat masih dihargai publik. Pernyataan resmi klub mengindikasikan bahwa keputusan ini datang dari pihak Salah.

Desember lalu, Salah merasa dikorbankan setelah dicadangkan melawan Leeds United. Liverpool terkejut dengan nada kerasnya, meski belum berencana melepas Salah. Klub menilai keputusan ada di tangan Salah.

Salah bukan pemain yang suka ditekan. Ia tampak nyaman mengendalikan situasi. Keputusan berpisah, bahkan belum setahun setelah kontrak baru, dirasa terbaik bagi semua pihak.

Sepanjang kariernya di Liverpool, Salah beberapa kali mengalami situasi kontrak yang rumit. Pada 2022, ia sempat mempertimbangkan opsi yang berpotensi merusak reputasinya.

Namun, ia menyadari pentingnya menjaga warisan dan statusnya sebagai legenda klub. Kepergian ini memberi kesempatan berpisah dengan cara yang bersih. Salah diperkirakan mendapat perpisahan layaknya pahlawan, berbeda dengan Trent Alexander-Arnold tahun lalu.

Perpisahan Salah kemungkinan mendekati suasana saat Juergen Klopp meninggalkan klub pada 2024. Bagi pemilik klub, Fenway Sports Group (FSG), kepergian Salah disertai rasa terima kasih. Klub juga diuntungkan dengan berkurangnya beban gaji.

Kepergiannya membuka ruang bagi energi baru dalam tim, dengan biaya yang lebih rendah. Namun, keputusan memperpanjang kontrak Salah di usia 33 tahun patut dipertanyakan. Liverpool dinilai belum mampu menjaga konsistensi kesuksesan jangka panjang.

Perubahan besar dalam skuad musim lalu menunjukkan masalah Liverpool tidak hanya berkaitan dengan Salah. Ke mana Salah akan melanjutkan kariernya masih belum jelas. Agennya, Ramy Abbas, menyindir spekulasi yang beredar.

"Kami tidak tahu di mana Mohamed akan bermain musim depan. Itu berarti tidak ada orang lain yang tahu," katanya.

Kepergian Salah menandai berakhirnya sebuah era di Anfield. Pengaruh dan daya tariknya dipastikan akan tetap mengikuti ke mana pun ia melangkah.

Recommended