MotoGP Pertimbangkan Format Kualifikasi Baru Usai Kritik Pembalap

Format akhir pekan MotoGP menuai kritik. Davide Brivio usul dua sesi kualifikasi terpisah seperti F1 untuk tingkatkan persaingan.

Format akhir pekan MotoGP kembali menjadi sorotan, khususnya mengenai tekanan pada pembalap sejak adanya sprint race dan perubahan sistem kualifikasi. Sesi latihan hari Jumat menjadi krusial, memicu perdebatan di kalangan paddock.

Format Q1 dan Q2 yang diterapkan sejak 2013 dirancang untuk meningkatkan persaingan. Namun, dengan tambahan sprint race, dampaknya semakin terasa. Hasil sesi Jumat sore kini menentukan nasib pembalap di sepanjang akhir pekan.

Davide Brivio, bos tim Trackhouse Racing, menjadi salah satu suara yang menyoroti perlunya peninjauan ulang sistem ini. Brivio menilai format saat ini perlu dievaluasi agar lebih adil dan kompetitif, mencontoh format yang digunakan Formula 1 saat menggelar akhir pekan sprint.

Sejak 2013, MotoGP menerapkan format Q1 dan Q2 berdurasi 15 menit yang sangat memengaruhi penentuan posisi start. Dalam format terbaru, hanya 10 pembalap tercepat pada sesi latihan Jumat sore yang lolos langsung ke Q2. Pembalap di luar 10 besar harus berjuang di Q1 pada Sabtu pagi untuk memperebutkan dua tiket tersisa ke Q2.

Kesalahan kecil pada hari Jumat dapat berdampak besar pada peluang start di barisan depan. Sebelumnya, kombinasi catatan waktu dari tiga sesi latihan menentukan pembagian grup kualifikasi. Namun, kini hanya hasil latihan Jumat sore yang menjadi penentu.

Tekanan tinggi dirasakan karena satu sesi menentukan banyak hal. Hasil kualifikasi juga menentukan grid untuk sprint race dan balapan utama pada hari Minggu.

Usulan Dua Sesi Kualifikasi Terpisah dari Brivio

Brivio mengusulkan pendekatan berbeda, meniru sistem Formula 1 saat sprint weekend, karena format saat ini dianggap terlalu mudah "rusak" akibat satu sesi yang tidak mulus. Di F1, kualifikasi Jumat menentukan grid sprint race, sementara kualifikasi terpisah digelar Sabtu untuk menentukan posisi start grand prix hari Minggu.

"Saya ini sepenuhnya pendapat pribadi, tetapi saya tidak suka dengan Jumat sore, ketika Anda sudah harus berada di 10 besar, dan itu memengaruhi seluruh akhir pekan," ujar Brivio kepada GPOne.

Brivio menambahkan:

"Seharusnya Jumat sore tetap seperti sekarang, tetapi digunakan sebagai kualifikasi untuk sprint race, lalu ada sesi kualifikasi yang sesungguhnya untuk balapan hari Minggu."

Dengan sistem dua kualifikasi, Brivio meyakini akan tercipta dua grid berbeda dan menghindari akhir pekan dari dampak fatal akibat kesalahan di awal.

"Dengan cara ini, kita akan memiliki dua grid berbeda dan akhir pekan tidak akan terganggu sejak Jumat sore jika terjadi sesuatu yang salah."

Brivio juga menilai perubahan tersebut akan meningkatkan daya tarik kompetisi. "Menurut saya, ini juga akan lebih spektakuler, menciptakan ketertarikan yang lebih besar, dan akan ada lebih banyak hasil yang bisa diikuti sepanjang akhir pekan."

Dampak pada Persaingan dan Daya Tarik MotoGP

Usulan Brivio memicu diskusi menarik tentang arah perkembangan MotoGP. Intensitas kompetisi memang meningkat sejak sprint race diperkenalkan. Namun, konsekuensinya, tekanan terhadap pembalap dan tim juga meningkat.

Dengan dua sesi kualifikasi terpisah, peluang bangkit akan lebih terbuka. Pembalap yang kurang maksimal pada Jumat masih memiliki kesempatan memperbaiki posisi untuk balapan utama.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Dorna dan pemangku kepentingan MotoGP siap mengevaluasi format yang telah berjalan lebih dari satu dekade. Jika tujuannya adalah meningkatkan tontonan dan menjaga persaingan tetap hidup hingga hari Minggu, gagasan Brivio layak dipertimbangkan dengan serius.

Sumber: Crash.net

Recommended