Pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Hengga, memberikan klarifikasi terkait keterlibatannya dalam kericuhan saat laga melawan Dewa United U-20 pada ajang Elite Pro Academy (EPA) Super League di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026).
Kericuhan tersebut dipicu oleh ketegangan antarpemain setelah adanya gol yang dianggap offside serta dugaan tindakan rasialisme yang diterima oleh Alberto saat pertandingan berlangsung. Insiden ini menarik perhatian publik setelah video kejadian tersebar di media sosial.
Dilansir dari Bola, Alberto menjelaskan bahwa situasi memanas bermula ketika pemain Bhayangkara FC melakukan protes kepada wasit atas pengesahan gol Dewa United. Menurut pengamatannya, hakim garis sempat hendak mengangkat bendera tanda offside namun kemudian membatalkannya.
Setelah aksi protes tersebut, terjadi perselisihan fisik antara rekan setim Alberto dengan pemain Dewa United. Alberto mengaku awalnya mendekat ke bangku cadangan lawan untuk menanyakan alasan terjadinya pemukulan terhadap rekannya sebelum akhirnya situasi menjadi tidak terkendali.
Pemain muda tersebut mengaku terpancing emosi karena mendengar ucapan bernada rasialisme yang diarahkan kepadanya saat ia berada di dekat area bench. Meski demikian, Alberto menyatakan tidak mengetahui secara pasti sumber suara ejekan tersebut berasal.
"Saya sempat pergi balik arah ke bench saya. Kemudian dikatain 'itm', 'monyt', nah di situ gelap mata karena emosi juga," kata Fadly Alberto Hengga, Pemain Bhayangkara FC U-20.
Alberto menyadari bahwa tindakan kekerasan yang dilakukannya tidak dapat dibenarkan secara aturan olahraga. Namun, ia berharap pihak berwenang juga mempertimbangkan aksi provokasi dan pemukulan yang dilakukan oleh pemain lawan sebagai pemicu kejadian.
Komite Disiplin (Komdis) PSSI saat ini dilaporkan telah memulai proses investigasi untuk mendalami seluruh rangkaian kejadian dalam laga tersebut. Penyelidikan difokuskan pada pelanggaran disiplin pemain serta dugaan pelecehan rasial yang muncul di lapangan.