Piala Dunia selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Lebih dari sekadar tontonan, ajang ini menjadi pengalaman kolektif yang sarat nilai.
Sepak bola di Indonesia, kata Azis Subekti, hidup di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari lapangan berdebu hingga warung kopi. Piala Dunia menjadi agenda penting yang melampaui sekadar hiburan.
Nilai yang terkandung di dalamnya sangat berharga karena memberikan pelajaran hidup secara tidak langsung. Hilangnya akses menonton bukan hanya sekadar pertandingan, tetapi juga ruang belajar bersama.
Masyarakat Indonesia dapat duduk sejajar sebagai penonton tanpa memandang status sosial. Semua mata tertuju pada lapangan hijau.
Piala Dunia menjadi sarana pembelajaran karakter tanpa disadari. Anak-anak belajar tentang pentingnya kerja keras, bakat, dan menerima kekalahan sebagai bagian dari proses.
Mereka menyaksikan bagaimana kesalahan dapat diperbaiki melalui kerja sama tim dan kemenangan diraih melalui disiplin.
Orang dewasa juga belajar untuk menahan emosi, menerima hasil, dan menghargai perbedaan tanpa dendam. Pengalaman ini menjadi langka di tengah perbedaan yang ada.
Sepak bola dunia mengajarkan bahwa tim besar lahir dari pembinaan yang sabar, sistem yang konsisten, dan pemikiran jangka panjang. Prestasi tidak dapat diraih dengan jalan pintas.
Pemerintahan Prabowo Subianto dapat memanfaatkan Piala Dunia sebagai sarana pendidikan sosial. Akses yang luas dan nonton bareng dapat menghidupkan kembali ruang belajar yang egaliter.
Manfaat dari kebersamaan, sportivitas, dan ingatan kolektif akan menjadi modal sosial yang berharga.
Piala Dunia memang melibatkan kepentingan besar dan politik global, namun juga menyatukan orang-orang biasa dalam kegembiraan. Mengembalikan Piala Dunia sebagai tontonan rakyat berarti mengembalikannya ke tengah masyarakat.
Ajang ini menjadi guru yang ceria, sekolah tanpa dinding, dan kenangan bersama. Indonesia dapat belajar tentang kerja keras, bangkit dari kekalahan, dan arti bermain sebagai satu tim.