Premier League Dikritik karena Sanksi Ringan untuk Chelsea

Mantan petinggi Chelsea, Christian Purslow, mengkritik Premier League karena sanksi ringan yang dijatuhkan kepada The Blues.

Mantan petinggi Chelsea mengkritik tajam Premier League terkait sanksi yang diberikan kepada klub tersebut. Hukuman yang dinilai terlalu ringan tersebut diberikan terkait pelanggaran yang terjadi di masa lalu.

Christian Purslow, mantan petinggi Chelsea, menganggap bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada The Blues terlalu ringan, padahal kasus tersebut tergolong sangat serius dalam sejarah kompetisi.

Chelsea baru-baru ini dijatuhi denda sebesar £10,75 juta, larangan transfer yang ditangguhkan, serta pembatasan perekrutan pemain akademi selama sembilan bulan.

Hukuman ini diberikan setelah klub terbukti melakukan pembayaran ilegal senilai £47,5 juta kepada agen tidak terdaftar dan pihak ketiga dalam periode kepemilikan Roman Abramovich antara 2011 hingga 2018.

Pembayaran ilegal tersebut diduga memberikan keuntungan signifikan bagi Chelsea dalam proses transfer sejumlah pemain bintang, seperti Eden Hazard, Willian, Ramires, dan David Luiz.

Meskipun denda tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Premier League, banyak pihak merasa bahwa hukuman itu belum sebanding dengan pelanggaran yang dilakukan. Beberapa klub lain seperti Everton dan Nottingham Forest sebelumnya mendapat pengurangan poin karena pelanggaran aturan Profit and Sustainability (PSR), yang dinilai tidak seberat kasus Chelsea.

Purslow, yang pernah bekerja di Chelsea pada periode 2014 hingga 2017, menyatakan bahwa ia tidak terlibat dalam urusan teknis tim. Ia mengaku terkejut dengan keputusan liga yang tidak menjatuhkan sanksi olahraga yang lebih berat.

"Saya pikir ini adalah pelanggaran paling serius di Premier League dalam waktu yang lama," ujar Purslow. "Sebagian besar orang di dunia sepak bola akan melihat ini sebagai hasil yang sangat lunak dan menguntungkan bagi Chelsea."

Menurutnya, ketika sebuah klub mendapatkan keuntungan olahraga dari pelanggaran, seharusnya sanksi yang dijatuhkan juga berupa hukuman di aspek olahraga, bukan hanya finansial. Pertimbangan yang digunakan dalam menjatuhkan hukuman dinilai terlalu longgar dan tidak konsisten.

"Sudah jelas bahwa ada keuntungan olahraga yang diperoleh dari aktivitas transfer tersebut," tambahnya. "Dalam situasi seperti ini, hukuman berupa denda saja tidak cukup untuk mencerminkan tingkat pelanggaran."

Jadi Perdebatan

Kontroversi ini semakin memanas seiring performa Chelsea yang menjadi sorotan. Kekalahan telak 0-3 dari Paris Saint-Germain di Liga Champions UEFA menambah tekanan pada tim.

Chelsea berpotensi mendapat sambutan tidak bersahabat saat bertandang ke markas Everton dalam lanjutan kompetisi domestik.

Kasus ini membuka kembali perdebatan mengenai konsistensi penegakan aturan di Premier League. Banyak pengamat menilai bahwa liga perlu menunjukkan ketegasan yang sama terhadap semua klub agar integritas kompetisi terjaga.

Recommended