Kekalahan telak 1-6 yang dialami PSBS Biak dari Bali United pada pekan ke-26 BRI Super League 2025/2026, Senin (6/4/2026), di Stadion Kapten I Wayan Dipta, semakin menenggelamkan klub tersebut di dasar klasemen. Tim berjuluk Badai Pasifik ini hanya mengoleksi 18 poin dari 26 pertandingan, dan belum meraih kemenangan dalam sembilan laga berturut-turut, seperti dilansir dari Bola.
Situasi pelik ini memunculkan pertanyaan besar mengenai performa tim. Pelatih PSBS, Marian Mihail, mengakui kondisi timnya jauh dari ideal, namun masih menyimpan harapan untuk terhindar dari degradasi.
Mihail mengungkapkan bahwa timnya memulai pertandingan dengan baik dan berhasil mencetak gol lebih dulu, namun gagal mempertahankan keunggulan. Terlebih, gol cepat yang tercipta di babak kedua akibat kurangnya konsentrasi mengubah jalannya pertandingan secara drastis.
"Secara matematis kami masih punya peluang, kami harus berjuang sampai akhir. Tapi setelah pertandingan ini, ya sebelum laga ini saya lebih optimistis. Saya tahu ini adalah kesempatan untuk mengembalikan kepercayaan diri tim," ujar Mihail.
"Kami memulai laga dengan baik, mencetak gol, tapi gagal mempertahankan skor. Lalu, di babak kedua ketika Anda langsung kebobolan karena kurang konsentrasi, semuanya berubah," lanjutnya.
Kritik Terhadap Mental dan Identitas Tim
Pelatih asal Rumania berusia 67 tahun itu juga secara terang-terangan mengkritik mental dan identitas tim yang dinilainya belum terbentuk dengan baik. Kelemahan ini sangat terlihat ketika Sandro Embalo dan rekan-rekannya berada di bawah tekanan.
"Saya sudah dua bulan di sini dan sangat mengenal suasana tim. Ini adalah tim yang tidak memiliki identitas. Jadi ketika keadaan berjalan baik, semuanya oke," kata mantan pelatih PSS Sleman itu.
Mihail menambahkan bahwa kurangnya motivasi, pengorbanan, dan sikap abai para pemain menjadi kekhawatiran besar baginya. Ia menegaskan pentingnya sebuah tim sepak bola memiliki identitas yang kuat, terutama di momen-momen sulit.
"Tapi saat keadaan menjadi sangat sulit, para pemain yang tidak bermain dengan hati akan menyerah. Hasilnya seperti hari ini. Kurangnya motivasi, pengorbanan, dan sikap abai ini sangat mengkhawatirkan bagi saya. Itulah mengapa saya katakan, sebuah tim sepak bola harus memiliki identitas."
"Mereka harus bermain terutama di saat-saat sulit, baik masalah internal maupun eksternal di lapangan. Mereka harus bermain dengan dedikasi dan kekuatan untuk meraih hasil bagus. Hal itu tidak terjadi pada tim kami. Tidak ada pengganti untuk kurangnya motivasi dan ambisi. Di level ini semua kesalahan akan dibayar mahal," tegasnya.
Masalah Pertahanan dan Minimnya Latihan
Selain aspek mental, Mihail menyoroti lini pertahanan PSBS yang sangat rapuh. Badai Pasifik tercatat sebagai tim dengan jumlah kebobolan terbanyak di liga, mencapai 59 gol.
"Masalah utama tim kami adalah pertahanan. Kami belum berhasil meski punya kiper level atas seperti Kadu, dan bek seperti Pablo, Sandro, bahkan George yang sudah kembali, tapi ini soal permainan bertahan tim secara keseluruhan," paparnya.
Situasi diperparah dengan minimnya waktu latihan dalam beberapa pekan terakhir akibat masalah internal. Hal ini menghambat evaluasi dan pembenahan yang seharusnya bisa dilakukan tim.
"Transisi dan penyerangan Anda bisa lihat, kami rata-rata mencetak satu gol tiap laga, tapi kami kebobolan lebih dari dua gol tiap laga. Kami ingin memperbaiki ini bulan ini, tapi karena beberapa masalah internal kami gagal menjalankan sesi latihan yang direncanakan," jelas Mihail.
"Kami punya waktu hampir sebulan tapi saya rasa kami hanya berlatih 10 hari atau kurang. Sekali lagi saya katakan, sepak bola adalah tentang persiapan, ambisi, dan upaya setiap hari agar bisa bermain di pertandingan resmi dengan kekuatan penuh," tutupnya.