Rasmus Hojlund membuktikan kualitasnya sebagai penyerang utama di Napoli setelah meninggalkan Manchester United. Di bawah asuhan Antonio Conte, Hojlund menjadi andalan di lini depan.
Pemain asal Denmark ini dipinjamkan dari Manchester United pada musim panas 2025. Napoli memiliki kewajiban mempermanenkan statusnya jika lolos ke Liga Champions musim depan.
Penampilan Hojlund terbilang memuaskan dengan torehan 12 gol di seluruh kompetisi. Delapan gol dicetak dalam 21 laga Serie A, serta tiga gol di Liga Champions. Ia menjadi harapan baru bagi klub.
Hojlund mengungkapkan pengalamannya di Napoli dalam wawancara dengan Il Mattino. Ia menepis pandangan negatif tentang kota tersebut.
"Saya tidak berada di pusat kota, tetapi saya sangat ingin menjelajahi gang-gang dan jantung kota Napoli, tetapi saya tahu tidak akan mudah untuk berkeliling. Saya merasakan energi luar biasa yang dipancarkan kota ini," ujarnya.
Ia merasakan vitalitas dan kepribadian yang kuat di sekitarnya, bukan hanya saat bermain di tim.
"Kota ini sering kali dianggap remeh, padahal sebenarnya tidak berbahaya, meskipun banyak rumor beredar dari jauh mengenai tempat ini," kata Hojlund.
Hojlund juga merasakan perkembangan sebagai pemain di Napoli. Ia membandingkan kemampuannya mencetak gol dengan saus tomat.
"Saya seperti saus tomat. Ketika sausnya tidak keluar, Anda berjuang untuk mengeluarkannya, lalu tiba-tiba semuanya keluar sekaligus."
Ia mengungkapkan ambisinya selama bermain di Napoli. "Saya datang ke sini karena saya ingin memenangkan trofi, dan memenangkan Piala Super Italia adalah bukti bahwa pilihan saya adalah pilihan yang tepat," ujarnya.
Hojlund memberikan pujian kepada Conte dan metode pelatihannya. "Ketika saya berada di Bergamo, saya tidak sabar; saya ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Saya terus-menerus menekan, seolah-olah saya tidak punya kesempatan kedua," jelasnya.
Hojlund tidak menyesal meninggalkan Manchester United. Ia menerima lebih banyak umpan dalam sistem Conte dibandingkan saat berada di bawah asuhan Ruben Amorim atau Erik Ten Hag. Hal ini mendukung perannya sebagai pusat serangan tim.
“Saya datang ke sini karena ingin memenangkan trofi, dan keberhasilan menjuarai Piala Super Italia menjadi bukti bahwa pilihan saya sudah tepat," tegasnya.