Dinamika pasar modal Indonesia kembali menunjukkan pergerakan signifikan pada medio Februari ini. Investor mancanegara terpantau melakukan aksi lepas portofolio dalam skala besar, yang berdampak langsung pada fluktuasi indeks sektoral. Fenomena ini menciptakan tekanan jual yang cukup terasa, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar jumbo yang biasanya menjadi penopang stabilitas pasar.
Langkah lepas saham ini mencerminkan adanya penyesuaian strategi di tengah kondisi ekonomi global dan domestik yang dinamis. Berdasarkan data perdagangan terbaru, aksi jual bersih ini menyasar sektor perbankan dan pertambangan yang selama ini menjadi primadona bagi para pengelola dana institusi internasional. Hal ini memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai prospek jangka pendek instrumen investasi di Bursa Efek Indonesia.
Meskipun tekanan jual cukup tinggi, aktivitas transaksi di lantai bursa tetap menunjukkan likuiditas yang terjaga. Partisipasi investor domestik yang solid menjadi bantalan agar koreksi tidak terjadi terlalu dalam. Memahami peta aliran dana asing atau foreign flow menjadi krusial bagi investor ritel untuk menentukan titik masuk atau keluar yang tepat pada emiten-emiten blue chip seperti saham BBCA dan sektor komoditas lainnya.
Rincian Tekanan Jual Asing di Pasar Reguler
Mengutip laporan dari Bareksa.com (13/2/2026), investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net sell mencapai Rp1,49 triliun pada penutupan perdagangan Kamis, 12 Februari. Angka ini didapat dari akumulasi transaksi jual sebesar Rp7,83 triliun berbanding transaksi beli yang hanya menyentuh Rp6,34 triliun.
Saham BBCA dan BUMI Jadi Target Utama Pelepasan
Emiten perbankan swasta terbesar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), memimpin daftar saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing. Tercatat, nilai jual bersih pada saham BBCA menembus angka Rp890,06 miliar. Kondisi ini menyeret harga saham BBCA terkoreksi sebesar 1,68 persen menuju level Rp7.325 per lembar.
Selain sektor perbankan, emiten batu bara PT Bumi Resources Indonesia Tbk (BUMI) juga mengalami tekanan serupa. Investor asing melepas kepemilikan di BUMI dengan nilai mencapai Rp507,09 miliar. Akibatnya, harga saham BUMI ditutup melemah 0,73 persen ke posisi Rp270. Padahal, BUMI dan BBCA menjadi dua emiten dengan nilai transaksi paling jumbo hari itu, masing-masing mencapai Rp2 triliun dan Rp1,72 triliun.
Daftar 10 Saham dengan Net Sell Terbesar
Berikut adalah daftar emiten yang mencatatkan pelepasan aset terbesar oleh investor asing:
-
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp890,06 miliar
-
PT Bumi Resources Indonesia Tbk (BUMI): Rp507,09 miliar
-
PT Petrosea Tbk (PTRO): Rp249,79 miliar
-
PT Darma Henwa Tbk (DEWA): Rp136,51 miliar
-
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp123,95 miliar
-
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Rp100,69 miliar
-
PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rp87,33 miliar
-
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA): Rp76,44 miliar
-
PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI/RATU): Rp68,45 miliar
-
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA): Rp64,59 miliar
Anomali di Saham BMRI dan TINS
Di tengah aksi jual masif pada saham BBCA, investor asing justru terlihat melakukan akumulasi atau net buy pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Saham BMRI diborong senilai Rp330,59 miliar, yang mendorong kenaikan harga sebesar 1 persen ke level Rp5.075.
Sektor pertambangan timah juga mencuri perhatian lewat PT Timah Tbk (TINS). Emiten ini mencatatkan lonjakan harga yang fantastis sebesar 9,97 persen ke level Rp4.190 setelah asing melakukan beli bersih senilai Rp154,92 miliar. Pergerakan berlawanan arah antara BBCA dan BMRI ini menunjukkan adanya rotasi portofolio di dalam internal sektor perbankan itu sendiri.