Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan pergerakan agresif saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada perdagangan jelang akhir pekan ini. Setelah sempat terkoreksi tipis pada hari sebelumnya, emiten pertambangan batu bara raksasa milik Grup Bakrie dan Salim ini langsung tancap gas sejak pembukaan pasar. Lonjakan harga yang cukup signifikan ini menjadi perhatian para pelaku pasar karena disertai dengan volume transaksi yang sangat masif.
Fenomena “rebound” saham BUMI ini memperlihatkan dinamika menarik di sektor energi, terutama saat indeks sektoral lainnya cenderung bergerak moderat. Ketertarikan investor nampak jelas dari antrean beli yang menebal di berbagai jenjang harga, menandakan adanya kepercayaan diri yang kembali pulih terhadap prospek jangka pendek emiten ini. Para trader dan investor institusi terlihat mulai melakukan akumulasi posisi di tengah sentimen pasar yang masih mencari arah pasti.
Melesatnya harga saham berkode BUMI ini tidak lepas dari akumulasi beli bersih yang sangat besar oleh investor besar. Berdasarkan pantauan di lantai bursa pada sesi I, Jumat (13/2/2026), BUMI mendominasi papan perdagangan baik dari sisi frekuensi maupun nilai transaksi harian. Hal ini mempertegas posisi BUMI sebagai salah satu instrumen paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mampu menggerakkan psikologi pasar secara luas.
Analisis Pergerakan Harga dan Volume Transaksi Masif
Memasuki pukul 10.38 WIB, saham BUMI terpantau menguat tajam ke level Rp 283 per lembar saham, atau naik sebesar 5,19% dibandingkan harga penutupan hari sebelumnya. Pergerakan ini tergolong sangat impresif mengingat pada perdagangan Kamis (12/2/2026), saham ini sempat mengalami tekanan jual dan ditutup melemah 0,74%.
Data perdagangan menunjukkan likuiditas BUMI sangat tinggi pada sesi pertama hari ini. Tercatat sebanyak 4,67 miliar lembar saham telah berpindah tangan dengan frekuensi perdagangan mencapai 75.493 kali. Nilai transaksi yang dibukukan bahkan menembus angka Rp 1,29 triliun, sebuah angka yang cukup fantastis untuk satu sesi perdagangan di pasar reguler.
Dominasi Net Buy dan Aksi Borong Investor
Lonjakan harga yang tiba-tiba ini didorong oleh aksi beli bersih (net buy) yang sangat agresif. Data aplikasi Stockbit Sekuritas mencatat bahwa BUMI membukukan net buy senilai Rp 438,4 miliar. Angka ini merupakan posisi tertinggi di antara jajaran saham lainnya yang mencatatkan beli bersih pada hari yang sama. Masuknya aliran dana besar ini menunjukkan adanya “big money” atau pemodal kakap yang sedang melakukan akumulasi di saham pertambangan ini.
Proyeksi Teknikal dan Titik Krusial Saham BUMI
Bagi para pelaku pasar, pergerakan BUMI saat ini berada dalam fase krusial untuk menentukan tren jangka menengah. Kenaikan hari ini telah berhasil menembus beberapa titik psikologis penting yang sebelumnya menjadi area konsolidasi.
Resistance dan Support Utama
CGS International Sekuritas dalam analisis teknikal harian untuk Jumat (13/2/2026) memberikan panduan mengenai level-level krusial yang perlu diperhatikan investor:
-
Resistance Pertama: Berada di level 279 (telah terlewati pada sesi I).
-
Resistance Kedua: Berada di level 289, yang menjadi target penguatan selanjutnya.
-
Pivot Point: Titik tengah atau pivot berada di angka 273.
-
Support: Jika terjadi aksi ambil untung (profit taking), support pertama berada di 263 dan support kedua di level 257.
Kemampuan BUMI untuk bertahan di atas level pivot 273 menjadi sinyal positif bahwa momentum penguatan masih berpotensi berlanjut hingga penutupan perdagangan sore nanti atau bahkan hingga awal pekan depan.