Situasi di Selat Hormuz semakin memanas akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini mendorong negara-negara di dunia untuk mencari solusi agar pengiriman energi vital melalui jalur laut tersebut dapat kembali lancar. Di tengah upaya global, kedua negara justru saling melontarkan ancaman yang memperburuk keadaan.
Sebagai respons atas ancaman tersebut, Inggris memimpin pertemuan virtual pada Kamis (2/4) lalu, dihadiri sekitar 40 negara. Pertemuan ini bertujuan untuk mengeksplorasi cara-cara memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur yang krusial bagi pasokan minyak global. Sayangnya, diskusi tersebut belum membuahkan kesepakatan konkret, meskipun semua peserta sepakat akan pentingnya kebebasan penggunaan Selat Hormuz bagi seluruh negara.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus menegaskan ancaman serangan yang lebih serius terhadap Iran jika kesepakatan tidak tercapai. Pernyataan ini, seperti dilansir dari Detik Finance, memicu kenaikan harga minyak dunia, memberikan tekanan tambahan pada konsumen global.
"SUDAH SAATNYA BAGI IRAN UNTUK MEMBUAT KESEPAKATAN SEBELUM TERLAMBAT," kata Trump dalam unggahan di media sosial, dikutip dari Reuters, Jumat (3/4/2026).
Trump juga mengunggah video pengeboman jembatan B1, yang terletak antara Teheran dan pinggiran kota Karaj di barat laut. Jembatan yang masih dalam tahap pembangunan dan dijadwalkan dibuka tahun ini tersebut dikabarkan menelan korban. Media pemerintah Iran melaporkan, delapan orang tewas dan 95 lainnya terluka akibat serangan AS. Meski demikian, pejabat Iran menegaskan bahwa serangan semacam itu tidak akan melemahkan tekad Iran.
"Menyerang bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa Iran untuk menyerah," ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam sebuah pernyataan.
Ancaman Trump, yang disampaikan dalam pidato pada Rabu (1/4) malam, juga menyasar pembangkit listrik sipil Iran tanpa batas waktu yang jelas untuk mengakhiri serangan. Hal ini memicu janji pembalasan dari pihak Iran dan berdampak negatif pada harga saham. "Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu tempat mereka seharusnya berada," tambah Trump, di tengah tekanan yang semakin meningkat untuk mengakhiri konflik yang terjadi.
Hampir lima minggu sejak dimulainya serangan udara gabungan AS-Israel, perang di Iran telah menciptakan kekacauan signifikan di seluruh wilayah dan menyebabkan guncangan di pasar keuangan global. Kondisi ini menggarisbawahi urgensi penyelesaian konflik demi stabilitas regional dan ekonomi dunia.