Serangan rudal Iran terhadap kota Dimona dan Arad di Israel menyebabkan setidaknya 180 orang terluka. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, dan langsung memicu pertanyaan mengenai efektivitas sistem pertahanan udara Iron Dome.
Dimona, lokasi fasilitas nuklir utama Israel, dan kota terdekat Arad menjadi sasaran serangan rudal. Televisi pemerintah Iran mengklaim serangan ini adalah respons terhadap serangan terhadap kompleks pengayaan nuklir Natanz.
Banyak pihak merasa terkejut ketika rudal balistik Iran berhasil menembus pertahanan udara Israel dan menghantam Dimona, yang berjarak hanya 12,8 kilometer dari situs nuklir. Kota Arad juga menjadi sasaran beberapa jam kemudian.
Militer Israel mengakui bahwa mereka telah mencoba mencegat kedua rudal balistik tersebut, tetapi gagal. Angkatan Udara Israel telah meluncurkan investigasi atas kegagalan ini dan menyatakan bahwa temuan awal menunjukkan bahwa rudal-rudal tersebut gagal dicegat karena serangkaian malfungsi, bukan kegagalan sistemik.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengunjungi lokasi terdampak dan menyebut bahwa sebuah "keajaiban" tidak ada korban jiwa dalam serangan itu. Namun, ia tidak menjelaskan mengapa sistem pertahanan udara, yang menelan investasi miliaran dolar dari Israel dan Amerika Serikat, gagal mencegat serangan Iran.
Iron Dome, yang dikenal sebagai elemen pertahanan rudal Israel yang paling utama, dirancang untuk mencegat roket dan rudal jarak pendek. Menurut New York Times, Arrow 3 adalah sistem rudal anti balistik tercanggih Israel, yang dikembangkan bersama AS, untuk mencegat target di luar atmosfer Bumi.
Namun, rudal pencegat Arrow 3 mahal dan membutuhkan waktu lama untuk diproduksi, sehingga penggunaannya harus hati-hati. Komponen pertahanan lain adalah David's Sling, sistem pertahanan bergerak yang dirancang untuk mencegat roket jarak menengah hingga jauh, rudal jelajah, pesawat terbang, dan drone pada jarak 40-300 km.
Sistem rudal pertahanan THAAD milik AS juga dilaporkan dikerahkan di Israel. Israel sedang berupaya memperluas cakupan dan jangkauan sistem pencegat lainnya yang lebih hemat biaya dan lebih banyak tersedia.
"Mereka (Israel) sedang mencoba memaksimalkan kemampuan pertahanan udara tingkat bawah seperti Iron Dome dan David's Sling," ungkap Jenderal Ran Kochav, mantan komandan pasukan pertahanan udara dan rudal Israel.
Kepala juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan kegagalan di Arad dan Dimona tidak saling berkaitan. Namun, media Israel melaporkan bahwa sistem rudal anti balistik Arrow 3 yang mahal tidak dikerahkan untuk menghadapi rudal yang menghantam Arad dan Dimona, sehingga memunculkan kekhawatiran tentang perlunya sistem pertahanan lebih hemat biaya.
Militer Israel juga membantah laporan yang menyebut mereka mulai kehabisan rudal pencegat. Situasi ini mengingatkan perang Juni 2025, ketika beberapa pihak di lembaga keamanan Israel dilaporkan menyuarakan kekhawatiran mengenai apakah mereka akan kehabisan rudal pertahanan sebelum Iran menghabiskan persenjataan rudal balistiknya.