Paolo Simoncelli, pemilik tim SIC58 Moto3, berpendapat bahwa Francesco "Pecco" Bagnaia melakukan kesalahan dengan meremehkan Marc Marquez di musim MotoGP 2025. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh pengaruh dari lingkungan Valentino Rossi.
Simoncelli menyatakan bahwa Bagnaia, yang sebelumnya mendominasi MotoGP dengan gelar juara dunia pada 2022 dan 2023, serta hampir meraih gelar ketiga berturut-turut pada 2024, mengalami penurunan performa di musim 2025.
Pada musim 2025, Bagnaia hanya mampu meraih dua kemenangan dan finis di peringkat kelima klasemen akhir. Sementara itu, Marc Marquez, rekan setim barunya di Ducati, berhasil meraih gelar juara dunia MotoGP ketujuh dengan 11 kemenangan dan 14 kemenangan sprint.
Kesulitan Bagnaia beradaptasi dengan motor GP25 sempat memunculkan spekulasi mengenai tekanan mental karena harus berbagi garasi dengan Marquez. Namun, Bagnaia dan pihak Ducati telah membantah anggapan tersebut.
Dalam wawancara dengan Corriere della Sera, Simoncelli mengatakan Bagnaia tidak siap menghadapi rekan setim sekuat Marquez karena pengaruh lingkungan VR46 di sekitarnya.
"Ia tidak siap menghadapi rekan setim yang begitu kuat," kata Simoncelli.
"Pecco berasal dari kelompok Valentino Rossi, dan setelah mendengar semua yang dibicarakan di lingkungan itu, ia meremehkan Marquez," ujarnya.
Simoncelli juga menyinggung kegagalan Bagnaia mempertahankan gelar juara dunia pada musim sebelumnya meski meraih banyak kemenangan.
"Tahun sebelumnya, ia kehilangan gelar juara dunia meski memenangi 11 balapan," ucapnya.
"Ia berpikir, 'Yang perlu saya lakukan hanya mengurangi kecelakaan.' Tetapi, Marc adalah monster di lintasan, dan itu membuatnya jatuh ke dalam krisis,” imbuh Simoncelli.
Keputusan Ducati merekrut Marquez ke tim pabrikan pada 2025 disebut-sebut menimbulkan kekecewaan di lingkaran VR46 yang dekat dengan Bagnaia. Hubungan Marquez dan Rossi memang memburuk sejak akhir musim 2015, memicu rivalitas yang masih terasa hingga kini.
Dalam wawancara yang sama, Simoncelli mengungkapkan kekagumannya terhadap Marquez, yang mengingatkannya pada putranya, Marco Simoncelli, yang meninggal dunia dalam kecelakaan di MotoGP Malaysia 2011.
"Saya tahu Marc adalah yang terkuat," kata Simoncelli.
"Saya selalu menyukainya; ia membalap dan berpikir seperti anak saya, tidak pernah menyerah dan selalu mencoba," ujarnya.
"Jika Marco tidak meninggal, kami akan bersenang-senang bersama. Anda tahu bagaimana pertarungan di dunia olahraga," tambahnya.
Sumber: Crash