Stasiun Mampang Terbengkalai dan Penuh Sampah di Tengah Menteng

Kondisi Stasiun Mampang di Jakarta Pusat kini memprihatinkan dengan tumpukan sampah dan bangunan rusak meski jalur rel di depannya masih aktif operasional.

Kondisi Stasiun Mampang yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat, terpantau terbengkalai dan dipenuhi tumpukan sampah pada Senin (20/4/2026). Stasiun bersejarah ini kini tidak lagi melayani penumpang meski berada di jalur aktif KRL lintas Tanah Abang-Manggarai.

Berdasarkan pantauan Detik Finance di lokasi, tumpukan berbagai jenis sampah terlihat berserakan baik di bagian luar maupun dalam area stasiun. Bangunan kecil yang dahulu berfungsi sebagai loket tiket kini dalam kondisi memprihatinkan tanpa atap dan jendela.

Dinding bangunan beton tersebut tampak kusam dengan banyak coretan vandalisme. Di sisi lain area, hanya tersisa tiang menyerupai kerangka halte dengan papan nama bertuliskan "Mampang" yang sudah tidak terawat.

Dilansir dari Detik Finance, akses bagi pejalan kaki untuk menyeberang dengan aman di sekitar area ini juga tidak tersedia. Meskipun bangunannya sudah tidak berfungsi, jalur rel di depan stasiun tetap aktif dilalui rangkaian KRL setiap harinya.

Mengutip data dari akun Instagram resmi KAI Commuterline, Stasiun Mampang telah berdiri sejak tahun 1922 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada awalnya, tempat ini hanya berfungsi sebagai stopplaats atau perhentian sementara bersama Stasiun Karet.

Sebagai perhentian sementara, stasiun ini tidak dilengkapi perangkat kendali persinyalan (beveiliging) maupun kepala stasiun (stationchef). Pelayanan hanya dilakukan oleh penjaga loket yang menjual karcis kepada calon penumpang pada masa itu.

Setelah masa kemerdekaan, operasional stasiun sempat terhenti karena lintas Tanah Abang-Manggarai hanya difungsikan untuk angkutan barang pada era Orde Lama. Hal ini menyebabkan bangunan asli stasiun dibongkar dan hanya menyisakan peron yang terbengkalai selama 40 tahun.

Pengaktifan kembali dilakukan pada tahun 1987 untuk melayani penumpang umum. Namun, masa operasionalnya berakhir pada tahun 2007 saat stasiun resmi ditutup kembali, sementara Stasiun Karet tetap beroperasi hingga saat ini.

Fasilitas fisik yang tersisa saat ini dinilai tidak lagi memenuhi standar keamanan naik turun penumpang. Tinggi peron hanya sejajar dengan roda besi kereta dan panjangnya diperkirakan hanya mampu menampung empat gerbong rangkaian KRL.

Permukaan peron yang hanya berupa tanah dan kerikil kini tertutup puing bangunan serta pecahan kaca. Kondisi permukaan yang tidak rata dan dipenuhi ranting pohon mempertegas ketidaklayakan stasiun ini untuk digunakan kembali dalam waktu dekat.

Recommended