Sutiono Lamso Kenang Awal Karier dan Kunci Sukses Persib Bandung

Legenda Persib Bandung Sutiono Lamso menceritakan kisah awal bergabungnya dengan Maung Bandung hingga kunci sukses menjuarai Liga Indonesia 1994/1995.

Sutiono Lamso menjadi salah satu legenda sepanjang masa yang selalu melekat di hati para pendukung Persib Bandung, Bobotoh. Pemain kelahiran Purwokerto, 19 Agustus 1966 tersebut mencatatkan sejarah panjang bersama Maung Bandung sejak tahun 1988 hingga 2000, seperti dikutip dari Bola.

Selama berseragam Persib Bandung, Sutiono Lamso berhasil mempersembahkan tiga gelar juara yang bergengsi. Prestasi tersebut meliputi dua trofi Perserikatan pada musim 1989/1990 dan 1993/1994, serta satu gelar juara Liga Indonesia 1994/1995.

Ketajaman sang striker di lini depan juga diakui dengan keberhasilannya menjadi Pemain Terbaik pada musim 1993/1994. Setahun berselang, pada musim 1994/1995, ia mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak kompetisi.

Hingga kini, loyalitas Sutiono Lamso terhadap Pangeran Biru tidak pernah pudar meski sudah lama pensiun. Pria yang kini berusia 59 tahun tersebut terpantau selalu mengikuti perkembangan laga Persib di bawah asuhan pelatih Bojan Hodak.

Sutiono Lamso merasa bangga dengan pencapaian back to back juara yang diraih Marc Klok dan kawan-kawan. Ia juga melihat peluang besar bagi skuad Persib saat ini untuk mencetak hattrick juara pada musim ini.

Di sela-sela atmosfer kompetisi, Bobotoh juga terlihat memadati Graha Persib di Jalan Sulanjana, Bandung, pada Jumat (22/5/2026). Mereka mengantre panjang demi berburu jersey dan merchandise menjelang laga pemungkas melawan Persijap Jepara, bahkan diikuti oleh wisatawan asal Singapura.

Melalui saluran YouTube Bicara Bola, Sutiono Lamso membagikan kisah awal perjalanannya yang tidak banyak diketahui publik hingga bisa menembus skuad utama Persib Bandung.

"Saya pertama kali datang ke Bandung itu pada 1988 akhir. Kami datang dari Purwekerto. Terus masu klub Produta. Dulu kan anggota Persib tuh. Ada kompetisi internal Persib," kata Sutiono Lamso.

"Karena waktu itu, Persib mengambil pemain dari anggotanya. Makanya saya masuk ke Produta. Begitu saya main, sekali main sudah bikin dua gol. Main keduanya bikin gol lagi," imbuhnya.

Performa impresif tersebut langsung memikat perhatian pelatih Persib kala itu, Nandar Iskandar, yang kemudian langsung mempromosikannya ke tim senior.

"Nah, di situ kita langsung dipanggil pelatih, waktu itu Pak Nandar Iskandar. Dia minta saya untuk bergabung ke tim senior Persib. Saya juga kaget. Dua kali main langsung dipanggil ke Persib. Antara percaya enggak percaya," kenang Sutiono Lamso serya tersenyum.

"Persib itu tim idola saya waktu kecil. Saya sempat berpikir,'Benar nih'. Kayak mimpi gitu, kita bisa gabung dengan tim senior. Saya berumur 22 tahun ketika itu."

Kepercayaan dari tim pelatih dibayar tuntas oleh Sutiono Lamso dengan tampil produktif di kompetisi domestik dan menjadi andalan utama tim.

"Dulu itu, pertama main di Perserikatan. Saya sudah bisa bikin gol banyak, ada delapan. Tapi karena banyak pemain yang golnya sama, jadi akhirnya enggak diadakan," ujar Sutiono Lamso.

"Nah, baru waktu Perserikatan 1994, eh Piala Utama dulu. Kita dulu, sebelum ada liga, ada Piala Utama. Empat besar Galatama, empat besar Perserikatan. Kita waktu itu masuk final sama Pelita Jaya, tahun 1992".

Berkat keberhasilannya menjadi pencetak gol terbanyak, Sutiono Lamso mendapatkan hadiah uang tunai yang tergolong besar pada masa itu.

"Dari 1992 ke 1993, saya top skornya. Saingan saya waktu kalau enggak salah Alexander Saununu. Dapat hadiah uang Rp15 juta. Buat saya sebagian, sebagian lagi saya bagi-bagi sama teman-teman," paparnya.

Setelah gantung sepatu dari dunia sepak bola, ia sempat bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga memasuki masa pensiun.

"Saya sekarang sudah pensiun nih. Dulu PNS. Begitu pensiun main bola, kita terus kerja jadi PNS. Nah, sekarang sudah pensiun. Saya kembali lagi ke lapangan, jadi pelatih. Jiwa saya memang di bola," tutup Sutiono Lamso.

Momen Final Liga Indonesia 1994/1995 yang Bersejarah

Salah satu pencapaian yang paling monumental dalam karier sepak bola Sutiono Lamso adalah partai final Liga Indonesia 1994/1995.

Laga puncak yang berlangsung di Stadion Utama Senayan Jakarta pada Minggu, 30 Juli 1995 tersebut mempertemukan Persib Bandung dengan Petrokimia Putra.

Persib Bandung yang saat itu dilatih oleh Indra Thohir berhasil keluar sebagai juara berkat gol tunggal Sutiono Lamso pada menit ke-79.

Kemenangan ini terasa sangat istimewa karena diraih saat kompetisi tertinggi di Indonesia baru saja menggabungkan kompetisi Galatama dan Perserikatan.

Selain itu, Persib Bandung sukses meraih gelar juara dengan mengandalkan 100 persen pemain lokal di saat tim lawan banyak diperkuat pilar asing.

Resep Rahasia Kekompakan dan Kebugaran Pemain

Sutiono Lamso membeberkan dua faktor utama yang menjadi kunci utama kedigdayaan Persib Bandung meski tanpa kehadiran pemain asing di dalam tim.

"Yang jelas, kita kan tanpa pemain asing. Mungkin kalau saya, ada pemain lokal ada pemain asing, masih bisa ngandalkan nih. 'Ini saya punya pemain asing mungkin bisa ngebantu saya'. Nah, terus, sementara kita kan enggak ada pemain asing. Apa yang harus kita lakukan?" kata Sutiono Lamso.

"Otomatis, kita jelas, kebugaran itu harus kita jaga. Terus, yang kedua, kekompakan. Jadi dengan kekompakan dan kebugaran yang bagus, kita bisa mengatasi tim-tim lawan. Misalnya, ada pemain asing nih. Kita misalnya ketemu sama Pelita Jaya, waktu itu ada Maboang Kessack, Roger Milla. Pemain dunia itu kan," imbuh legenda yang kini berusia 59 tahun.

Kondisi fisik yang prima membuat para pemain Persib Bandung tampil percaya diri menghadapi legiun asing berlabel dunia di tim lawan.

"Di Bandung Raya ada Olinga Atangana, ada Dejan Gluscevic. Itu di kandang kita main lawan Dejan. Tapi, kita ya enggak kalah walaupun Persib pemain lokal semua. Ya itu tadi, karena kita punya daya tahannya kuat ditambah kekompakan," tandas kelahiran Purwokerto, 19 Agustus 1966.

"Karena tim ini kan dari era Perserikatan, terus bertahan sampai ke Liga. Jadi kita sudah lama bergabungnya. Satu sama lainnya sudah saling tahu."

Faktor lain yang mendukung performa tim adalah kehadiran deretan gelandang lincah seperti Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, dan Yudi Guntara yang memiliki kecepatan di atas rata-rata.

"Terus ini lagi, gelandang kita kan kecil-kecil tuh. Ada Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, ada juga Yudi Guntara. Bisa ngalahin tim-tim yang pemainnya besar-besar dan tinggi-tinggi. Itu karena kita punya kecepatan, punya daya tahan," tandas Sutiono Lamso.

"Resep dan Pak Indra Thohir, latihannya memang physical-nya itu harus kuat. Saya kira itulah yang saya rasakan," tutup Sutiono Lamso.

Recommended