John Herdman, pelatih anyar Timnas Indonesia, tengah mengemban misi untuk meneruskan fondasi taktik yang telah dibangun oleh Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert. Arsitek asal Inggris ini tidak sekadar melontarkan janji, melainkan telah menunjukkan upayanya dalam mewujudkan ambisi bersama Skuad Garuda, seperti yang terlihat dalam dua pertandingan FIFA Series 2026.
Dalam dua laga tersebut, Timnas Indonesia berhadapan dengan Saint Kitts and Nevis serta Bulgaria. Herdman, mantan pelatih Timnas Kanada, telah membuktikan sentuhannya. Menurut penilaian pengamat sepak bola senior Gusnul Yakin, yang dikutip dari Bola, Herdman berhasil melanjutkan pondasi yang ditinggalkan oleh para pendahulunya, sembari mengembangkan potensi timnas dengan filosofi pribadinya.
Herdman mengakui kualitas pondasi pertahanan yang diwarisi dari Shin Tae-yong sangat baik, dengan tetap mempertahankan formasi tiga bek yang menjadi ciri khas era STY. Dia hanya melakukan modifikasi di sektor belakang Timnas Indonesia. Pendekatan ini mewajibkan para gelandang untuk bekerja keras sebelum serangan lawan mencapai lini belakang, menciptakan pergerakan simultan antara lini tengah dan belakang.
Salah satu contoh paling mencolok adalah penempatan Calvin Verdonk. Pemain yang sejatinya spesialis bek kiri ini, di bawah arahan Herdman, sering beroperasi di lini tengah. John Herdman juga tetap mengadopsi filosofi sepak bola ofensif ala Patrick Kluivert. Hal ini terlihat dari pergerakan Ole Romeny yang kerap turun ke tengah untuk menjadi penghubung alur bola ke depan.
Keberanian Taktik dan Tantangan Lini Serang
Keberanian Herdman terlihat dari keputusannya untuk tidak menggunakan playmaker sebagai pengatur serangan dan irama permainan. Pilihan taktis ini berkonsekuensi dengan mengorbankan pemain tengah dengan kemampuan teknis tinggi seperti Marc Klok, Ezra Walian, dan Ricky Kambuaya. Kekurangan utama yang masih terlihat pada tim asuhan Herdman berada di sektor serangan. Namun, Herdman masih memiliki banyak waktu untuk memantau dan mencari striker tajam yang dibutuhkan Timnas Indonesia untuk agenda pertandingan internasional mendatang.
Pengamat sepak bola Gusnul Yakin menyoroti bahwa permainan Timnas Indonesia kini semakin dinamis. Di era Shin Tae-yong, permainan cenderung monoton karena fokus pada pertahanan. Sementara itu, pada masa Patrick Kluivert, permainan dianggap membosankan karena terlalu fokus pada penguasaan bola, yang seringkali meninggalkan kekhawatiran akan kebobolan.
Gusnul Yakin menambahkan bahwa John Herdman sukses menjaga keseimbangan di semua lini Timnas Indonesia. Ia mengamati bagaimana semua pemain saling membantu secara simultan. Verdonk terlihat berpindah ke tengah, sementara Ole Romeny turun dari posisi striker. Jay Idzes dan Rizki Ridho juga berani naik ke area pertahanan lawan, dengan pemain lain selalu siap mengisi posisi yang ditinggalkan rekan setim.
Calvin Verdonk sebagai Pemain Kunci
Pujian khusus datang untuk Calvin Verdonk. Seperti dilansir dari Antara, Herdman menyebut Verdonk sebagai pemain komplet yang mampu menjalankan berbagai peran. Pemain yang kini membela Lille di Liga Prancis ini tak hanya piawai sebagai pemain bertahan, tetapi juga mahir dalam mengendalikan permainan dan membantu lini serang.
Dalam laga final FIFA Series 2026 melawan Bulgaria, Verdonk ditugaskan bermain lebih ke depan. "Penampilannya malam ini luar biasa. Dia pemain yang komplet. Ia punya kecerdasan taktik, kecepatan, stamina, akselerasi, dan visi umpan yang baik," ujar Herdman dalam konferensi pers setelah pertandingan. Verdonk bahkan memainkan dua peran berbeda dalam pertandingan tersebut, yaitu sebagai gelandang bertahan dan gelandang serang dengan fungsi "nomor 10". Peran di lini tengah ini mulai ia jalankan sejak era Patrick Kluivert, berbeda dengan era Shin Tae-yong yang lebih memercayakan Verdonk sebagai bek sayap kiri atau bek tengah.
Herdman melihat bahwa kualitas yang dimiliki Verdonk sangat berguna bagi Indonesia dan tidak menutup kemungkinan pemain tersebut akan terus dimainkan di lini tengah untuk mengontrol tempo permainan. "Saya pikir Calvin akan menjadi bagian besar dari masa depan tim ini dalam mengontrol tempo di lini tengah," ucap Herdman.
Verdonk sendiri mengaku tidak masalah ditempatkan di posisi mana pun. Pemain yang sudah memiliki 14 cap untuk Indonesia ini menegaskan kesediaannya untuk memberikan yang terbaik di posisi manapun pelatih memainkannya. "Saya bermain di posisi mana pun pelatih menempatkan saya. Entah itu, gelandang, atau bek sayap, bek tengah. Hari ini juga nomor 10. Saya akan bermain di posisi mana pun yang pelatih mau dan itu tidak masalah," kata Verdonk.
Perbandingan Debut Pelatih Timnas Indonesia
Debut John Herdman di Timnas Indonesia terbilang meyakinkan dibandingkan para pendahulunya. Dikutip dari Okezone, Herdman membantu Timnas Indonesia meraih kemenangan telak 4-0 atas Timnas Saint Kitts and Nevis pada 27 Maret 2026. Ia ditunjuk pada Januari 2026, menggantikan Patrick Kluivert yang dipecat pada Oktober 2025.
Shin Tae-yong, yang direkrut pada 2020 dan melatih hingga 2024, mencatatkan 26 kemenangan, 16 imbang, dan 17 kekalahan dalam 57 pertandingan. Debut resminya pada 29 Mei 2021 melawan Oman berakhir dengan kekalahan 1-3. Patrick Kluivert, yang melatih dari Januari hingga Oktober 2025, hanya memimpin delapan pertandingan resmi dengan tiga kemenangan, satu seri, dan empat kekalahan. Debutnya saat melawan Australia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 berakhir dengan kekalahan telak 1-5.
Kondisi debut Herdman juga dinilai lebih beruntung. Shin Tae-yong harus menjalani laga tandang, bahkan tertutup, di tengah pandemi Covid-19, sedangkan Kluivert langsung terjun di Kualifikasi Piala Dunia 2026 dan bermain di markas lawan. Optimisme pun diungkapkan Gusnul Yakin, yang merupakan mantan juru taktik Arema, bahwa Herdman mampu menyempurnakan pembangunan Timnas Indonesia yang belum rampung setelah era Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert.