Tiga Keputusan VAR yang Untungkan Arsenal dalam Perburuan Gelar

Arsenal diuntungkan tiga keputusan VAR kontroversial menurut panel Key Match Incidents (KMI) dalam perburuan gelar Premier League.

Arsenal semakin dekat dengan gelar Premier League pertama mereka dalam lebih dari dua dekade. Skuad Mikel Arteta unggul sembilan poin dari Manchester City di puncak klasemen sementara.

Namun, di balik performa impresif tersebut, muncul laporan bahwa The Gunners diuntungkan oleh beberapa keputusan kontroversial dari Video Assistant Referee (VAR) sepanjang musim ini.

Panel Key Match Incidents (KMI), yang bertugas mengevaluasi kualitas kepemimpinan wasit di setiap pertandingan liga, mencatat bahwa Arsenal belum pernah dirugikan oleh kesalahan terkait VAR dalam 31 pertandingan yang telah dijalani.

Sebaliknya, ada tiga keputusan yang dinilai keliru dan justru menguntungkan Arsenal.

Panel KMI terdiri dari lima anggota, termasuk mantan pemain dan pelatih, perwakilan liga, serta wakil dari Professional Game Match Officials Limited. Mereka bertugas menilai momen-momen krusial yang seharusnya bisa dikoreksi melalui VAR.

Salah satu insiden terjadi saat Arsenal menang 1-0 di markas Brighton & Hove Albion, American Express Stadium (5-3-2026). Dalam laga tersebut, tuan rumah seharusnya mendapat penalti setelah Gabriel Martinelli menjatuhkan gelandang Belanda, Mats Wieffer, di dalam kotak penalti.

Namun, wasit Chris Kavanagh memilih melanjutkan permainan, dan keputusan itu tidak diubah oleh VAR yang saat itu dikendalikan Michael Salisbury. Fabian Hurzeler, pelatih Brighton, sempat meluapkan kekesalannya atas keputusan tersebut, dan kini penilaiannya terbukti benar.

Panel menyimpulkan: "Martinelli tidak melihat bola, menahan Wieffer di dalam area, dan mencegah pemain tersebut untuk menantang bola."

Kasus Lainnya Melibatkan Chelsea dan Everton

Insiden lain terjadi saat Arsenal menghadapi Chelsea di Emirates Stadium (1-3-2026). Dalam laga yang berakhir 2-1 untuk tuan rumah itu, Declan Rice dinilai melakukan handball di area terlarang. Meski begitu, pelanggaran tersebut tidak dihukum penalti. Panel KMI secara bulat (5-0) menyatakan seharusnya Chelsea mendapat hadiah penalti.

Kesalahan ketiga juga berkaitan dengan potensi penalti yang tak diberikan. Penyerang Everton, Thierno Barry, seharusnya mendapatkan penalti setelah dilanggar William Saliba pada laga di Hill Dickinson Stadium, 21 Desember 2025.

Dalam laga tersebut, penalti dari Viktor Gyokeres menjadi penentu hasil pertandingan melawan Everton, skor 1-0 untuk Meriam London, tetapi tim lawan dinilai keliru tidak mendapat kesempatan serupa.

Komentar David Moyes sebelumnya yang menyebut ada klub tertentu mendapat perlakuan lebih menguntungkan dari wasit kini mendapat pembenaran.

Tiga anggota panel menyatakan bahwa "Saliba menendang Barry secara ceroboh tanpa menyentuh bola", yang seharusnya berujung penalti.

Recommended