Tottenham Hotspur akhirnya mengumumkan penunjukan pelatih baru untuk memperbaiki performa tim yang sedang terpuruk. Klub asal London Utara itu secara resmi menunjuk Roberto De Zerbi sebagai pelatih kepala permanen. Penunjukan ini dilakukan dengan kontrak jangka panjang, meskipun masih menanti izin kerja, seperti dilansir dari Bola.
Kehadiran De Zerbi terjadi di tengah situasi yang kurang ideal bagi Tottenham, yang terancam terjerumus ke zona degradasi di Premier League musim ini. Kondisi ini membuat ekspektasi terhadap pelatih asal Italia tersebut langsung melambung tinggi untuk menyelamatkan tim.
Sebelumnya, pelatih berusia 46 tahun ini telah menjadi kandidat utama pengganti Thomas Frank. Namun, klub sempat menunjuk Igor Tudor sebagai pelatih interim. Tudor hanya bertahan 44 hari dengan catatan satu kemenangan sebelum akhirnya berpisah.
Tottenham kini menjatuhkan pilihan pada De Zerbi, yang dikabarkan menandatangani kontrak berdurasi lima tahun tanpa klausul degradasi. Ini berarti ia akan tetap memimpin tim meskipun harus turun kasta ke Championship.
Penunjukan De Zerbi bukan sekadar pergantian pelatih biasa, melainkan membawa misi besar. Ia diharapkan dapat mengembalikan identitas permainan menyerang sekaligus menyelamatkan Tottenham dari ancaman degradasi yang membayangi.
Dalam pernyataan di situs resmi klub, De Zerbi menegaskan komitmennya terhadap proyek jangka panjang yang ditawarkan manajemen. "Saya sangat senang bergabung dengan klub sepak bola luar biasa ini, salah satu yang terbesar dan paling bergengsi di dunia," ujarnya.
Ia menambahkan, "Dari semua diskusi dengan pimpinan klub, ambisi mereka sangat jelas, membangun tim yang mampu meraih pencapaian besar dengan gaya bermain yang menghibur dan menginspirasi para suporter." De Zerbi menyatakan keyakinannya pada ambisi tersebut dan menandatangani kontrak jangka panjang untuk memberikan segalanya demi mewujudkannya.
De Zerbi juga menggarisbawahi fokus jangka pendeknya, yaitu membawa Tottenham keluar dari posisi berbahaya di klasemen. "Prioritas jangka pendek kami adalah naik di klasemen Premier League. Itu akan menjadi fokus utama hingga peluit akhir laga terakhir musim ini," katanya.
Ia juga mengungkapkan antusiasmenya. "Saya tidak sabar untuk turun ke lapangan latihan dan bekerja bersama para pemain untuk mencapai target tersebut."
Jadwal Krusial Penentu Nasib Spurs
Tottenham dihadapkan pada jadwal padat dan krusial. Tujuh pertandingan ke depan akan menjadi penentu apakah mereka mampu bertahan di Premier League atau harus terdegradasi. Laga perdana De Zerbi akan menjadi ujian berat saat bertandang ke markas Sunderland pada 12 April.
Situasi dapat semakin rumit jika hasil pertandingan lain tidak berpihak, termasuk duel antara West Ham United melawan Wolverhampton Wanderers. Direktur olahraga klub, Johan Lange, menegaskan bahwa Roberto De Zerbi memang sudah lama menjadi target utama klub.
"Roberto adalah target nomor satu kami untuk musim panas, dan kami sangat senang bisa membawanya lebih cepat," tutur Lange. Ia menambahkan bahwa De Zerbi adalah salah satu pelatih paling kreatif dan progresif di dunia sepak bola, dengan pengalaman luar biasa di level tertinggi, termasuk di Premier League.
Peringatan Keras dari Mantan Staf Pelatih
Meskipun optimisme mulai dibangun, tidak semua pihak yakin Tottenham bisa bangkit dengan cepat. Gus Poyet, mantan pemain sekaligus eks staf pelatih Spurs, memberikan peringatan keras.
Menurutnya, masalah Tottenham bukan sekadar soal pelatih, melainkan sudah mengakar sejak musim lalu. "Saya tidak setuju dengan orang yang bilang ini hanya masalah musim ini. Ini bukan kebetulan. Tottenham finis di posisi 17 musim lalu, dan sekarang juga di posisi 17," ungkap Poyet.
Poyet juga menilai karakter pemain yang direkrut lebih cocok untuk kompetisi Eropa, bukan Premier League yang kini sangat fisikal, penuh duel satu lawan satu, dan mengandalkan bola mati. Ia menambahkan bahwa situasi akan semakin sulit jika hasil buruk terus berlanjut.