Vinicius Junior Beri Sinyal Loyalitas ke Real Madrid

Vinicius Junior menunjukkan gestur selebrasi yang bermakna saat Real Madrid menang atas Rayo Vallecano, menandakan loyalitasnya.

Vinicius Junior kembali menjadi sorotan di Santiago Bernabeu dalam laga Real Madrid melawan Rayo Vallecano. Bukan hanya gol pembuka yang ia cetak, tetapi juga selebrasinya yang sarat makna menjadi perhatian.

Penyerang asal Brasil tersebut berlari ke arah tribun, mencium lambang Real Madrid berulang kali, dan mengangkat tangan meminta dukungan penuh dari suporter.

Sepanjang pertandingan, Vinicius Jr terlihat aktif berinteraksi dengan tribun, terutama kelompok ultras Los Blancos yang terus memberikan dukungan. Selebrasi ini seolah menjadi pernyataan sikap, pesan bahwa ia tetap bersama Real Madrid meski hubungannya dengan sebagian fans Bernabeu kurang harmonis.

Dalam beberapa bulan terakhir, Vinicius kerap mendapat siulan dari publik Bernabeu. Bahkan, saat melawan Rayo pun, cemoohan kembali terdengar meski ia mencetak gol penting.

Real Madrid saat ini sedang tidak dalam kondisi ideal. Mereka tersingkir dari Copa del Rey oleh tim Segunda Division, gagal lolos otomatis ke 16 besar Liga Champions, dan tertinggal dari Barcelona di La Liga.

Kemenangan atas Rayo Vallecano yang berada di peringkat ke-17 pun diraih dengan susah payah. Bahkan, Real sudah berganti pelatih untuk kedua kalinya musim ini. Dalam kondisi seperti ini, fans membutuhkan sosok untuk disalahkan, dan Vinicius Junior menjadi target utama.

Kontribusinya dianggap belum maksimal. Gol ke gawang Rayo adalah gol pertamanya di La Liga sejak 4 Oktober. Total, ia baru mencetak delapan gol di semua kompetisi musim ini. Ekspektasi publik Bernabeu terhadap Vinicius sangat tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan Kylian Mbappe yang sudah mengoleksi 37 gol.

Sorotan terhadap Sikap di Lapangan dan Isu Rasisme

Reaksi Vinicius di lapangan, gestur provokatif, hingga konflik terbuka dengan mantan pelatih Xabi Alonso menjadi bahan bakar tambahan. Termasuk pula sikapnya di bangku cadangan saat Real kalah dari Albacete di ajang Copa del Rey.

Keputusan Vinicius mengganti foto profil Instagram dari nuansa Real Madrid menjadi Timnas Brasil setelah mendapat siulan, serta pernyataannya soal kurangnya penghormatan terhadap warna kulitnya, juga dinilai sebagian fans sebagai pemicu konflik baru.

Guillem Balague, kolumnis BBC Sport, mengatakan, "Vinicius provokatif dan arogan, tapi ia tidak mendapat penilaian netral seperti pemain lain.”

Tekanan konstan itu dinilai Vinicius Jr sangat melelahkan. Sementara Bernabeu dikenal tidak menyukai pemain yang terlalu emosional dan meledak-ledak.

Isu rasisme juga menjadi faktor penting. Vinicius telah berulang kali menjadi korban serangan rasis di Spanyol. Pada Mei lalu, lima orang dijatuhi hukuman penjara bersyarat karena menghina Vinicius dalam laga melawan Valladolid pada 2022. Sementara tiga fans Valencia juga dijatuhi hukuman delapan bulan penjara atas insiden serupa pada 2023.

Vinicius bahkan pernah menegaskan, “Saya bukan korban rasisme, saya adalah mimpi buruk bagi para rasis.”

Namun, sikap vokalnya melawan rasisme justru tidak diterima semua pihak. Masih ada anggapan bahwa pemain seharusnya “hanya bermain bola”, bukan melawan ketidakadilan.

Balague menambahkan, “Vinicius tidak akan menerima itu. Ia hidup dengan diskriminasi sejak lahir.”

Kontrak yang Belum Diperpanjang

Situasi makin rumit karena Vinicius belum juga memperpanjang kontraknya, meski Real Madrid sudah menyiapkan tawaran sebelum Piala Dunia Antarklub musim panas lalu.

Di mata sebagian fans, loyalitas pemain tidak hanya diukur dari performa, tetapi juga komitmen jangka panjang. Penundaan ini ditafsirkan sebagai tanda bahwa Vinicius belum sepenuhnya memantapkan hati memperkuat Real Madrid.

Ia dikabarkan menunda negosiasi karena tidak nyaman bekerja di bawah Xabi Alonso. Kini, pelatih anyar Alvaro Arbeloa secara terbuka menyatakan ingin mempertahankannya.

Balague menilai, Madrid siap memperpanjang kontraknya kapan saja sebelum berakhir pada 2027. Namun, keraguan Vinicius mungkin muncul karena ia masih merasa tidak sepenuhnya diterima.

“Mengapa bertahan di tempat di mana Anda tidak sepenuhnya diinginkan, meski Anda salah satu yang terbaik?” tutup Balague.

Recommended