Sistem perpindahan pembalap di kompetisi MotoGP mendapat sorotan tajam karena dinilai kurang terstruktur. Regulasi mengenai jendela transfer yang lebih tertata kini dianggap menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga stabilitas kompetisi ke depan.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Managing Director of Yamaha Motor Racing, Paolo Pavesio, seperti dikutip dari Bola. Menurutnya, proses perpindahan pembalap yang terjadi bahkan sebelum musim balap dimulai merupakan fenomena yang tidak sehat bagi industri tersebut.
Kondisi karut-marut ini sedang dihadapi oleh Yamaha menjelang musim 2027. Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa Fabio Quartararo telah menyepakati kontrak dengan Honda pada akhir tahun 2025, situasi yang terjadi bahkan sebelum bergulirnya MotoGP 2026.
Merespons pergerakan tersebut, kubu Yamaha bergerak cepat dengan mengamankan tanda tangan Jorge Martin. Pabrikan asal Jepang ini juga dirumorkan sedang mendekati Ai Ogura untuk memproyeksikannya sebagai pengganti Alex Rins.
Fenomena ini tidak hanya melibatkan Yamaha. Fabio Quartararo dan Jorge Martin hanyalah bagian dari deretan pembalap besar yang sudah menentukan tim baru untuk musim 2027 sebelum kompetisi tahun 2026 resmi dimulai.
Pedro Acosta dikabarkan telah menandatangani kontrak dengan Ducati pada Desember lalu untuk mengisi posisi di samping Marc Marquez. Dampaknya, Francesco Bagnaia harus terdepak namun langsung mencapai kesepakatan dengan Aprilia demi menggantikan posisi Jorge Martin, sementara Marco Bezzecchi memilih bertahan di Aprilia.
Di tengah situasi tersebut, Monster Energy Yamaha MotoGP sendiri baru saja meluncurkan motor YZR-M1 dengan mesin V4 di Jakarta pada Rabu (21/1/2026). Kendaraan terbaru ini disiapkan untuk Fabio Quartararo serta Alex Rins pada musim 2026 dan akan segera menjalani uji coba di Sirkuit Sepang.
Paolo Pavesio menegaskan bahwa situasi kontrak seperti yang dialami Fabio Quartararo sangat merugikan tim. Pembalap asal Prancis itu memperpanjang kontrak dua tahun dengan Yamaha pada 2024, namun separuh masa kontraknya dihabiskan dengan status sudah berkomitmen ke Honda untuk musim 2027.
Pavesio menilai penerapan batasan waktu bursa transfer seperti pada cabang olahraga sepak bola dapat menjadi solusi bijak. Langkah ini dipercaya bisa melindungi nilai investasi yang sudah dikeluarkan oleh pemilik tim.
"Ada satu hal yang dapat saya katakan: situasi yang berkembang tahun ini, menurut pendapat saya, tidak sehat dan tidak tepat dalam jangka panjang. Pasar perpindahan pembalap yang terlalu dini tidak memungkinkan siapa pun untuk memaksimalkan investasi yang telah dilakukan," kata Pavesio.
Tantangan Regulasi di MotoGP
Kondisi psikologis pembalap saat berada di lintasan juga menjadi perhatian utama. Fokus mereka berpotensi terpecah karena harus memikirkan tim baru ketika musim balap baru saja berjalan.
"Kemudian, setelah itu, ketika tiba saatnya balapan, para pembalap memikirkan apa yang mereka lakukan sekarang. Tetapi mengetahui bahwa beberapa pembalap top sudah melakukan perpindahan sebelum kejuaraan dimulai, dengan kontrak yang hampir menjadi kontrak standar dua tahun," Pavesio menuturan.
"Berarti Anda tidak dapat memanfaatkan 50 persen dari investasi yang dilakukan pada seorang pembalap secara maksimal. Saya rasa kita membutuhkan – seperti yang kita bicarakan tentang Liberty, MotoGP Group, sebelumnya – pendekatan struktural, seperti di olahraga lain, terkait jendela transfer, di mana semuanya akan stabil pada periode tersebut," tambah beliau.
Kendati demikian, mekanisme penegakan aturan jendela transfer ini masih menjadi tanda tanya besar. Pola komunikasi pembalap yang sering kali mencapai kesepakatan informal secara tertutup sebelum penandatanganan kontrak resmi menjadi hambatan utama yang sulit dipecahkan oleh otoritas tertinggi MotoGP.