Manajemen Arema FC melayangkan protes resmi kepada Komisi Wasit PSSI menyusul serangkaian keputusan kontroversial yang dianggap merugikan tim dalam beberapa pertandingan terakhir di BRI Super League 2025/2026. Keputusan wasit Naufal Adya Fairuski saat Arema FC menjamu Malut United pada Jumat (3/4/2026) menjadi pemicu utama protes ini.
Dalam pertandingan yang berakhir imbang di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, kubu Singo Edan merasa sangat dirugikan oleh pemberian penalti kepada Malut United di pengujung babak pertama. Penalti tersebut berhasil dikonversi menjadi gol penyeimbang oleh David da Silva, demikian dilansir dari Bola.
Setelah melakukan peninjauan rekaman pertandingan secara menyeluruh, manajemen Arema FC menilai bahwa keputusan penalti itu tidak memiliki dasar yang kuat. Mereka berpendapat bahwa tidak ada kontak fisik signifikan antara Ahmad Alfarizi dan pemain Malut United, Igor Inocencio. Selain itu, bola disebut sudah dihalau oleh Jayus Hariono sehingga pemain lawan tidak berpotensi menguasainya.
Sebagai bentuk ketidakpuasan, manajemen Arema FC secara serentak mengumumkan melalui media sosial bahwa mereka telah mengirimkan surat kepada Komisi Wasit PSSI. Meskipun mereka menyadari bahwa protes ini tidak akan mengubah hasil pertandingan, Arema FC berharap adanya evaluasi agar kualitas kepemimpinan wasit di masa mendatang dapat ditingkatkan.
Pelatih Arema FC, Marcos Santos, turut menyuarakan kekecewaannya terhadap keputusan penalti tersebut. Marcos menduga bahwa wasit mungkin merasa bersalah setelah sebelumnya menganulir gol lawan, sehingga memberikan penalti sebagai kompensasi. “Mungkin wasit memberi penalti karena sebelumnya menganulir gol lawan. Dia merasa salah dan akhirnya memberi penalti. Padahal gol lawan juga dianulir karena mendorong pemain Arema,” kata Marcos Santos.
Ironisnya, sebelum memutuskan penalti, wasit Naufal Adya Fairuski sempat meninjau Video Assistant Referee (VAR). Meskipun hasil tinjauan VAR menunjukkan kemungkinan bukan pelanggaran, wasit tetap pada keputusannya untuk memberikan penalti. Hal ini menambah kekecewaan Arema FC, apalagi insiden serupa bukan kali pertama terjadi.
Insiden Kontroversial Melawan Bhayangkara FC
Sebelum pertandingan melawan Malut United, Arema FC juga merasa dirugikan oleh keputusan wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, saat berhadapan dengan Bhayangkara FC. Dalam laga tersebut, dua kartu merah dikeluarkan untuk pemain Arema, yang menurut tim, tidak sepatutnya diberikan.
Kartu merah pertama diberikan kepada Pablo Oliveira karena dianggap menginjak kaki lawan. Namun, Arema FC berargumen bahwa tindakan tersebut bukanlah kesengajaan, melainkan bagian dari upaya Pablo untuk menjaga keseimbangan dan melindungi bola. Sementara itu, kartu merah kedua diberikan kepada Dalberto yang melakukan ayunan tangan ke pemain Bhayangkara, Slavko Damjanovic.
Manajemen Arema FC menyoroti perbedaan perlakuan, karena Slavko Damjanovic, yang melakukan tindakan serupa, hanya diganjar kartu kuning. Marcos Santos menegaskan, “Saat melawan Bhayangkara juga ada keputusan yang tidak tepat. Harusnya waktu itu bukan kartu merah.” Serangkaian kejadian ini membuat Arema FC mengirimkan surat kepada Komisi Wasit PSSI untuk meminta klarifikasi dan penjelasan atas keputusan-keputusan yang merugikan timnya.