Amerika Serikat dilaporkan menggunakan bom dengan teknologi khusus penghancur bunker, dengan berat sekitar 2.200 kilogram, yang ditujukan ke lokasi-lokasi rudal bawah tanah Iran di sekitar Selat Hormuz.
Serangan yang diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) ini terjadi di tengah ketegangan dengan Iran yang telah mengganggu lalu lintas pelayaran di jalur perairan Teluk Persia, yang merupakan rute penting untuk transportasi minyak mentah.
"Beberapa jam lalu, pasukan AS berhasil mengerahkan sejumlah amunisi penembus dalam seberat 5.000 pon ke situs-situs rudal Iran yang diperkuat di sepanjang garis pantai Iran di dekat Selat Hormuz," ungkap CENTCOM di X.
Menurut CENTCOM, rudal-rudal jelajah anti-kapal Iran di lokasi-lokasi tersebut menimbulkan ancaman bagi pelayaran internasional di Selat Hormuz, seperti dikutip detikINET dari New York Post, Jumat (20/3/2026).
Seorang pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa amunisi yang digunakan adalah GBU-72 Advanced 5K Penetrator, bahan peledak yang pertama kali dijatuhkan oleh pesawat AS pada tahun 2021.
Menurut siaran pers Angkatan Udara AS pada tahun 202, bom ini dirancang untuk mengatasi target yang diperkuat dan terkubur di bawah tanah, dan dapat digunakan oleh pesawat tempur maupun pesawat pengebom.
Sebelumnya, Angkatan Udara AS menyebutkan bahwa hanya dua jenis pesawat yang disetujui untuk menggunakan GBU-72/B, yaitu pesawat pembom B-1B Lancer dan jet tempur F-15E Strike Eagle.
Selat Hormuz sendiri ditutup oleh blokade Iran menggunakan ranjau laut, drone, dan kapal, sehingga menghentikan 27% pasokan energi maritim global serta menyebabkan harga minyak melonjak di atas USD 100 per barel. Iran menyandera selat itu sebagai balasan serangan gabungan AS dan Israel.
Presiden Donald Trump mengecam sekutu-sekutu Eropa, termasuk Prancis dan Inggris, atas penolakan mereka untuk membantu membuka kembali jalur air tersebut.
"AS akan terus dengan cepat melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di dalam dan di sekitar Selat Hormuz," klaim Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM.