Praktik buang-buang waktu dalam pertandingan sepak bola menjadi perhatian utama. Rencana uji coba regulasi baru untuk mengatasi hal ini sedang digodok.
Salah satu langkah terbaru yang diusulkan adalah penerapan aturan yang menyasar kiper yang berpura-pura cedera. Tujuannya adalah untuk mencegah mereka mengulur waktu dan memberikan kesempatan bagi rekan setim untuk menerima instruksi dari pelatih.
Kompetisi Women's Super League akan menjadi tempat uji coba aturan ini mulai musim depan.
Sepanjang musim 2025/2026, insiden kiper yang menerima perawatan medis di tengah pertandingan semakin sering disorot oleh pengamat dan penggemar di media sosial.
Di Premier League, isu ini kembali mencuat setelah Brighton & Hove Albion kalah 0-1 dari Arsenal pada Kamis (5-3-2026) dini hari WIB.
Fabian Hurzeler, pelatih Brighton, mengkritik praktik buang waktu tersebut. Ia menyoroti David Raya, kiper Arsenal, yang tiga kali menerima perawatan dalam pertandingan itu. Menurut Hurzeler, Arsenal memanfaatkan momen tersebut untuk mengulur waktu dan memberi kesempatan pemain menerima instruksi.
Fenomena Timeout dan Usulan Aturan
Seiring meningkatnya perhatian terhadap fenomena "timeout" yang melibatkan kiper, sebuah inisiatif untuk mencegah taktik tersebut akan diuji coba di Women's Super League musim depan, seperti dilaporkan oleh The Times.
Dalam aturan uji coba yang direncanakan berlaku mulai musim 2026/2027, tim harus mengeluarkan satu pemain lapangan selama satu menit apabila kiper mereka menerima perawatan medis di lapangan.
Usulan ini sebelumnya dibahas dalam pertemuan tahunan International Football Association Board (IFAB) pekan lalu.
Namun, hingga kini belum diputuskan bagaimana cara menentukan pemain yang harus keluar sementara dari lapangan. Salah satu opsinya adalah memberikan kewenangan kepada pelatih kepala untuk memilih pemain yang harus meninggalkan permainan selama satu menit tersebut.
Dalam peraturan yang berlaku saat ini, pemain yang mendapat perawatan medis di lapangan wajib keluar selama 30 detik sebelum kembali bermain. Ketentuan ini hanya berlaku untuk pemain lapangan, sedangkan penghentian permainan karena kiper menerima perawatan kerap memberi kesempatan tim untuk beristirahat sejenak di tengah pertandingan.
Kekesalan Hurzeler dan Sindiran Cara Menang
Hurzeler mengungkapkan kekesalannya usai pertandingan melawan Arsenal.
"Saya rasa hanya ada satu tim yang benar-benar mencoba bermain sepak bola hari ini," kata Hurzeler.
"Saya ingin bertanya satu hal: apakah Anda pernah melihat dalam pertandingan Premier League seorang kiper jatuh tiga kali seperti itu? Tidak, kan?"
Ia juga menyoroti peran wasit dan penyelenggara liga dalam menegakkan aturan.
"Pada akhirnya, ini soal aturan. Jika Premier League dan wasit membiarkan semuanya terjadi, maka itu akan sulit. Mereka seperti membuat aturan mereka sendiri. Saat ini saya merasa mereka bermain dengan aturan mereka sendiri, tidak peduli bagaimana cara mereka bermain," ucap pelatih asal Jerman itu.
Hurzeler menegaskan dirinya tidak ingin menang dengan cara seperti itu.
"Saya tidak akan pernah menjadi manajer seperti itu, yang mencoba menang dengan cara tersebut. Saya ingin bermain dengan baik, saya ingin para pemain saya terus berkembang dan tetap bermain sepak bola di lapangan," ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui setiap tim kadang berusaha mengelola waktu pertandingan.
"Pada akhirnya tentu setiap tim akan mengatur permainan dan membuang waktu," lanjutnya.
"Namun, saya pikir harus ada batasnya. Batas itu harus ditetapkan oleh Premier League dan oleh para wasit. Saat ini mereka seolah melakukan apa yang mereka inginkan," imbuh pelatih berusia 33 tahun itu.