Gelandang serang Beckham Putra Nugraha dikenal memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi kritik dan cacian. Kondisi tersebut justru menjadi pemicu baginya untuk menampilkan performa terbaik, baik saat membela Persib Bandung maupun Timnas Indonesia.
Mental bertanding yang kuat ini telah terbentuk sejak usia dini pada Beckham. Bersama Atep, eks bintang Persib dan idolanya, ia tidak pernah mematikan kolom komentar di media sosial, menunjukkan kesiapan mereka menghadapi masukan publik.
Ledakan performa Beckham Putra saat ini merupakan hasil dari kerja keras bertahun-tahun. Kini, ia berambisi mencetak sejarah dengan meraih hattrick gelar BRI Super League 2025/2026 bersama Pangeran Biru, setelah sukses meraih gelar berturut-turut pada musim sebelumnya. Selain itu, gelandang berusia 24 tahun ini juga masih menjadi sosok krusial yang dibutuhkan oleh pelatih John Herdman di Timnas Indonesia.
Perjalanan karier Beckham Putra, dengan segala perjuangannya, dijelaskan secara gamblang oleh Riphan Pradipta, seorang pengamat sepak bola nasional asal Kota Kembang yang juga seorang podcaster balbalan, sebagaimana dilansir dari Bola.
"Beckham kan orang Bandung. Orang Bandung itu biasanya bobotoh. Sudah hampir dipastikanlah itu setiap orang Bandung adalah bobotoh gitu kan," ujar Riphan dalam tayangan kanal YouTube Liputan 6 Sport. "Nah, untuk orang-orang Bandung yang bermain bola itu kan artinya bobotoh yang bermain bola. Mereka yang tadinya bobotoh jadi pemain Persib. Dan mimpi itu kesampaian."
Mentalitas Beckham Putra juga telah teruji sejak masa kanak-kanak. Ia menunjukkan semangat juang tinggi untuk mewujudkan mimpinya menjadi pemain sepak bola profesional.
Riphan melanjutkan, "Mentalitas itu terbangun, yang pertama adalah karena mimpi Beckham dari kecil adalah menjadi pemain bola, pemain Persib, dan itu tercapai. Jadi memang ketika dia ada di situ, dia sangat fight."
Karakter kompetitifnya terlihat jelas sejak usia muda. "Namun, dari usia muda memang Beckham sudah karakter seperti itu. U-10 misalnya, kalau kalah beneran nangis senangis-nangisnya. Kata bapaknya, kata Pak Budi nih, bisa satu minggu nangis gitu. Menyesali kekalahan itu di final," jelas Riphan.
Keinginan untuk selalu menang sudah tertanam dalam diri Beckham sejak dini. "Kemudian U-15 misalnya. Dia kalah, nangis gitu. Jadi winning mentality. Beckham itu orang yang ingin memenangkan semuanya dari kecil. Dari waktu kecil dia hanya ingin memenangkan pertandingan kelompok usia mana pun, dia ingin menang."
Kiprah Berprestasi Sejak Usia Dini
Dengan semua pengalaman tersebut, Beckham Putra menjelma menjadi pemain muda yang memiliki karakter kuat dan pantang menyerah dalam setiap pertandingan. Pengalaman menimba ilmu sepak bola di Inggris juga turut membentuk mentalnya sehingga tidak gentar menghadapi tim manapun.
"Makanya, secara penampilan pun, dan secara kemampuan dia, pengalaman ke Inggris waktu kelompok umur terbawa ke Timnas Indonesia," tutur Riphan. "Namun, secara gestur dia tetap sama. Dia kalau kalah, orang yang sangat kecewa dan dia adalah orang yang sangat ingin memenangkan semua pertandingan, semua turnamen."
Prestasi Beckham sejak usia muda sangat lengkap, mencakup berbagai kelompok umur. "Makanya secara gelar dia paling lengkap. Usia muda Beckham tuh sudah dapat semua. Segala kelompok usia sudah dapat dan ketika senior, mentalitasnya terbawa."
Perpaduan antara statusnya sebagai bobotoh Persib dan mentalitasnya yang tak mau kalah menjadikannya pemain dengan karakter juara. "Sudah dia bobotoh yang bermain bola untuk Persib, Bobotoh yang main di Persib, secara mentalitas dia memang enggak pernah mau kalah dari sejak anak-anak," tambah Riphan. "Jadi klop. Bobotoh dan enggak mau kalah. Terjadi di Persib, dia dapat mentalitasnya juara. Beckham itu orang yang tak pernah takut akan tekanan. Makin dia ditekan makin dia keluar."
Mampu Menjadi Penentu di Momen Penting
Beckham Putra seringkali menjadi penentu dalam pertandingan, termasuk saat menghadapi laga-laga bertekanan tinggi. Semakin ia dihujat, semakin mematikan penampilannya bagi lawan, yang dibuktikan dengan gol-gol yang tercipta.
"Jadi kalau diperhatikan, gol-gol Beckham itu terjadi ketika matching match tensi tinggi. Kalau main-main biasa, jarang mencetak gol. Namun, kalau sudah match tinggi dan dia dihujat, Beckham tuh mencetak gol," ungkap Riphan. Menurutnya, kritik dan cercaan justru tidak membuat Beckham menjauh dari penggemar, termasuk mereka yang meragukan dan mengkritiknya.
"Di Timnas Indonesia belum lama ini misalnya. Kemudian melawan Persija Jakarta dia mencetak gol. Nah, itu Beckham Putra, makin ditekan dia makin kuat," kata Riphan.
Satu hal yang menjadi ciri khas Beckham, seperti halnya Atep, adalah tidak pernah mematikan kolom komentar media sosial. "Dan satu hal yang saya perhatikan, setidaknya ada dua di Bandung yang tidak pernah mematikan kolom media sosial, kolom komentar, yakni Atep dan Beckham. Mereka berdua sering banget dikritik, tapi mereka santai. Enggak pernah mematikan kolom komentar, karena bagi mereka, ya enggak apa-apa katanya. Ini bagian tekanan saja gitu," pungkas Riphan.