Chelsea mengalami masalah internal seperti yang pernah dihadapi Manchester United. Kekalahan telak 2-5 dari Paris Saint-Germain di leg pertama babak 16 besar Liga Champions membuat sang pelatih, Liam Rosenior, berjanji melakukan investigasi mendalam.
Meskipun Chelsea mampu memberikan perlawanan sengit selama lebih dari satu jam di Parc des Princes, performa mereka menurun drastis. Akibat kekalahan ini, langkah mereka di Liga Champions terancam berat, terutama menjelang leg kedua.
Sebelum pertandingan dimulai, susunan pemain inti Chelsea telah bocor dan beredar luas di media delapan jam sebelum kick-off. Anehnya, informasi tersebut akurat dan formasi awal itu sempat efektif menahan gempuran PSG.
Rosenior mengaku tidak mengetahui adanya kebocoran informasi tersebut. "Saya tidak menyadarinya. Kalau memang benar ada kebocoran, kami pasti akan mencari tahu asal-usulnya," ujarnya.
Kasus ini mengingatkan publik pada insiden serupa yang dialami Manchester United saat formasi awal mereka bocor ke media sosial beberapa jam sebelum pertandingan melawan Manchester City pada Januari lalu. Meski MU menang 2-0, kejadian tersebut tentu tidak ingin terulang.
Kebocoran informasi bukanlah hal baru bagi MU. Desember lalu, klub itu dikabarkan melakukan investigasi terkait taktik Ruben Amorim saat melawan Bournemouth yang bocor ke publik, meskipun pertandingan berakhir imbang 4-4.
Saat itu, seorang juru bicara klub menolak berkomentar lebih lanjut.
Kekalahan Chelsea atas PSG
Musim ini, Chelsea sempat mencatat kemenangan impresif di kompetisi Eropa, termasuk menaklukkan Barcelona di Stamford Bridge dan meraih kemenangan penting di markas Napoli. Melawan PSG, Chelsea sempat imbang 2-2 hingga menit ke-74, sebelum akhirnya PSG mencetak tiga gol tambahan.
Gol ketiga PSG lahir dari kesalahan kiper Filip Jorgensen. Rosenior enggan menyalahkan kipernya secara berlebihan. "Pemain pasti membuat kesalahan. Filip bukan yang pertama, dan itu bagian dari sepak bola," katanya.
Rosenior menambahkan, "Memang menyakitkan… Pada saat skor 2-2, saya pikir kami sedang unggul. Kami hanya selangkah lagi untuk menyamakan 3-3. Gol Joao Pedro sepertinya hampir offside. Tapi, di level tertinggi, seperti Liga Champions, margin itu kecil sekali. Gol kelima mereka paling menyakitkan, kami gagal mengatur permainan dasar. Mereka mencetak gol kelima dan membuat pertandingan sangat berat bagi kami," ulas Rosenior.
PSG berambisi menjadi tim kedua di era Liga Champions yang mampu mempertahankan gelar. Rosenior mengakui kualitas tim lawan berada di level yang jarang ditemui di Inggris. "Di Premier League, tidak ada pemain seperti Doue, Ousmane Dembele, Khvicha Kvaratskhelia, Vitinha, atau Joao Neves. Ini tim luar biasa. Juara Eropa yang luar biasa," ucap mantan pelatih Strasbourgh itu.