Gunawan Dwi Cahyo Kenang Sepatu Bola Pertama Pemberian Pakde

Gunawan Dwi Cahyo mengenang sepatu bola pertamanya yang didapat dari pakde saat masih SD, menjadi motivasi untuk terus berlatih.

Kenangan tentang sepatu bola pertama menjadi salah satu momen paling berkesan bagi Gunawan Dwi Cahyo dalam perjalanan kariernya di sepak bola.

Mantan pemain belakang Persija Jakarta, Persik Kediri, dan Persijap Jepara ini, berbagi cerita tentang awal mula dirinya mengenal sepak bola melalui kanal YouTube Dens. TV. Ia mengaku terinspirasi oleh Ardi Warsidi, legenda Persija asal Jepara.

"Kenal sepak bola karena lingkungan. Lingkungan itu, dulu kan di Jepara ada Warsidi, pemain tim nasional dan membawa Persija juara 2001. Nah, itu tuh lagi ramai-ramai itu. Akhirnya, tetangga semua ayo kita latihan. Akhirnya semua pada ke lapangan," kata Gunawan Dwi Cahyo.

Namun, impian Gunawan kecil sempat terbentur masalah ekonomi. Saat masih duduk di kelas 3 SD, ia tak mungkin meminta sepatu bola kepada orang tuanya.

"Waktu itu masih kelas 3 SD. Pertama kali itu, orang tua kan memang belum punyalah gitu. Akhirnya saya dipinjamin sepatu sama pak de. Itu awal cerita main bola. Cuma kan, oh sudah dipinjamin nih, ya harus semangat latihannya," kenang Gunawan Dwi Cahyo.

Semangatnya untuk berlatih sepak bola terus membara. Meski sepatu pinjaman dari pakdenya sudah berkali-kali ditambal karena robek, ia tak pernah berhenti berlatih.

"Akhirnya latihan, latihan, sampai tuh sepatu sudah sempat ditambal sampai berapa kali gitu. Makanya sangat berkesanlah. Terus masuk sekolah sepak bola, latihan terus," ujarnya tersenyum.

Gunawan juga mengingat merek sepatu pertamanya. "Tahun berapa ya? Pokoknya sepatuh tuh, sepatu Eagle. Nah, itu sepatu pertama. Sudah berapa kali ditambal aja pokoknya. Baru bisa beli sepatu waktu masuk Porda (pekan olahraga daerah). SD kelas 5 atau kelas 6 gitu. Itu pun bukan nomor satu. Yang penting sepatu barulah," kata Gunawan.

Saking cintanya pada sepak bola, Gunawan pernah nekat bermain tanpa sepatu, yang membuat ayahnya marah dan memotong sepatu pemberian pakdenya. Ibunya kemudian membelikan sepatu baru untuknya.

"Dulu, sampai sempat main bola. Saking senangnya main bola, sepatu yang dibelikan sama ibu, selesai main bola kan jam 3 sore sampai habis magrib, Setelah itu kan, main bola di kampung enggak pakai sepatu. Akhirnya bapak marah,'Kamu tuh udah ini selalu habis main bola kaki sobek karena enggak pakai sepatu'," ujar Gunawan Dwi Cahyo menirukan ucapan ayahnya.

"Nah itu, akhirnya bapak marah. Sempat tuh, sepatunya dipotong-potong. Akhirnya, ya namanya anak kecil, nangislah. Akhirnya ibu coba itu dan itu juga kesayangan sepatu yang dipotong yang dikasih pak de. Jadi bapak kan nggak tahu. Jadi akhirnya dipotong, terus ibu beli sepatu lagi," ujarnya menambahkan.

Ayahnya khawatir jika Gunawan terluka, sekolahnya akan terganggu.

"Karena kan dipikir, kalau misal saya sakit, otomatis biasanya sekolah yang paginya engak masuk. Karena pakai sepatu sekolah pasti sakit. Karena kan kondisinya luka. Jadinya ya itu yang bikin bapak marah," papar Gunawan Dwi Cahyo.

Seiring berjalannya waktu, dukungan dari orang tua, termasuk ayahnya, semakin besar. Ia bersekolah sepak bola dan masuk Diklat Salatiga.

"Sebenarnya yang pertama kali support itu ya ibu sama pak de. Kalau bapak enggak. Tapi setelah yang saya sekolah di sepak bola di SMP kelas 2 saya sudah dipanggil seleksi Persiku junior buat Suratin. Itu dah dapat gaji. Alhamdulillah, sudah dapat rezeki di situ, akhirnya orang tua mulai senang, termasuk bapak," tukasnya.

"Terus SMA, saya masuk Diklat Salatiga. Sekolah sudah enggak dibiayai orang tua karena dibiayai pemerintah. Setiap bulan juga dapat uang saku. Akhirnya dari sepak bola saya bisa menghasilkan gitu," tutup Gunawan Dwi Cahyo.

Recommended