Hansi Flick, pelatih Barcelona, menyampaikan rasa bangganya terhadap performa timnya meskipun harus tersingkir dari semifinal Copa del Rey musim 2025/2026. Dalam pertandingan leg kedua kontra Atletico Madrid, Barcelona meraih kemenangan 3-0. Namun, hasil tersebut belum cukup untuk mengantar Pedri dan rekan-rekannya ke final karena kalah agregat 3-4, seperti dilansir dari Bola.
Kekalahan ini, menurut Flick, tidak menimbulkan kekecewaan melainkan kebanggaan atas perjuangan para pemainnya. "Kami berani dan saya bangga. Ini pertandingan yang spektakuler. Kami kekurangan satu gol, tetapi kami bermain sangat, sangat baik," ujar Hansi Flick.
Ia juga menyoroti kualitas pemain muda seperti Marc Bernal, Pau Cubarsí, dan Gerard Martin yang telah memberikan segalanya untuk klub. "Meskipun demikian, kami kecewa karena tidak mendapatkan gol keempat," tambahnya.
Flick juga mempertanyakan implementasi Video Assistant Referee (VAR) setelah Barcelona kalah 0-2 dari Atletico Madrid dalam laga Liga Champions. Ia merasa pertandingan seharusnya berlangsung 10 lawan 10 pemain, merujuk pada insiden kartu merah Pau Cubarsi dan insiden handball yang melibatkan Marc Pubill.
Kekalahan tersebut terjadi setelah Julian Alvarez dan Alexander Sorloth mencetak gol bagi Atletico. Kartu merah yang diterima Cubarsi di akhir babak pertama, karena dianggap melakukan pelanggaran terakhir terhadap Giuliano Simeone, menjadi titik balik pertandingan.
Alvarez berhasil mencetak gol dari tendangan bebas setelah insiden tersebut. Kemudian, Sorloth menggandakan keunggulan Atletico, yang terjadi "melawan jalannya permainan" di babak kedua, ketika Barcelona bermain dengan 10 pemain.
Flick merasa wasit Istvan Kovacs dan VAR Christian Dingert seharusnya bisa menyeimbangkan situasi. Ia menyoroti insiden di babak kedua ketika kiper Atletico, Juan Musso, memberikan tendangan gawang pendek kepada Pubill. Pubill, yang masuk menggantikan David Hancko yang cedera dan sudah mendapat kartu kuning, tampak mengira tendangan gawang belum diambil dan menghentikan bola dengan tangannya, lalu mengembalikannya kepada Musso. Namun, para ofisial mengizinkan kiper untuk mengulang tendangan.
Insiden serupa musim lalu, di mana bek Aston Villa Tyrone Mings mengakibatkan penalti karena handball, membuat Flick merasa Atletico beruntung. Ditanya oleh Movistar apakah ia setuju dengan kartu merah Cubarsi, Flick berkata, "Mungkin iya, mungkin tidak… Saya tidak yakin apakah dia cukup menyentuhnya karena bola berada di belakang mereka."
"Namun situasi di mana Pubill menyentuhnya dengan tangannya dan wasit tidak memberikan apa-apa, bagi saya, sangat jelas," tambahnya. "Saya tidak tahu mengapa VAR tidak masuk. Dia adalah wasit Jerman dan dia luar biasa. Kita semua membuat kesalahan, tetapi dengan situasi seperti ini… Mengapa kita punya VAR? Seharusnya itu penalti dan kartu kuning kedua untuk pemain tersebut."
Kekalahan Barcelona ini terjadi hanya empat hari setelah mereka mengalahkan Atletico 2-1 di LaLiga. Pada kesempatan itu, Diego Simeone sangat marah karena kartu merah Gerard Martin dibatalkan menyusul tekel yang mengenai Thiago Almada.
Kemenangan Atletico pada hari Rabu menandai kemenangan pertama mereka di Camp Nou sejak Februari 2006 di bawah Pepe Murcia, mengakhiri rekor 25 kunjungan ke stadion tanpa kemenangan (8 seri, 17 kalah).
Barcelona, di sisi lain, telah tersingkir dari tiga pertandingan sistem gugur dua leg sebelumnya di Liga Champions ketika kalah di leg pertama di kandang. Mereka juga telah kalah tiga dari delapan pertandingan kandang terakhir mereka di fase gugur (4 menang, 1 seri), setelah hanya kalah empat dari 45 pertandingan pertama mereka (31 menang, 10 seri).
Meskipun demikian, Blaugrana hampir membalikkan defisit 4-0 di leg pertama saat menghadapi Atletico di semifinal Copa del Rey bulan lalu, dan Flick tidak akan menyerah pada peluang mereka. "Kami percaya pada diri kami sendiri. Di babak kedua, kami bermain sangat baik dengan satu pemain lebih sedikit," ujarnya. "Mereka juga memiliki kualitas di lini depan. Tidak mudah untuk bertahan melawan mereka, tetapi kami memiliki peluang untuk memenangkan pertandingan ini."
Mentalitas yang Diinginkan Flick
Hansi Flick menjelaskan bahwa performa skuad Barcelona saat melawan Atletico Madrid mencerminkan mentalitas yang ingin ia tanamkan pada timnya. "Semua orang yakin bagaimana cara bermain. Semua orang fantastis. Bernal mencetak dua gol, dan Cubarsí juga luar biasa," kata Flick.
"Itulah mentalitas yang saya inginkan. Mereka bisa menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Saya sangat menikmati menonton para pemain," tambahnya.
Dua gol dari Marc Bernal dan satu gol penalti dari Raphinha sempat membangkitkan harapan suporter tuan rumah. Namun, gol keempat yang dibutuhkan untuk memaksakan perpanjangan waktu tidak pernah tercipta, meskipun tekanan terus dilancarkan hingga menit akhir. Atletico Madrid, dengan keunggulan 4-0 di leg pertama, berhasil bertahan dan memastikan tiket final. Mereka akan menghadapi pemenang antara Real Sociedad dan Athletic Club di partai puncak.