Harapan Besar untuk John Herdman di Timnas Indonesia

Ekspektasi tinggi diletakkan pada John Herdman untuk membawa Timnas Indonesia berprestasi di kancah internasional.

Ekspektasi besar terhadap John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia diungkapkan oleh seorang pengamat sepak bola. Ia berpesan agar Herdman tidak terlena dengan kemampuan individu pemain Liga Indonesia seperti Beckham Putra atau Yakob Sayuri.

Pengamat tersebut bahkan sempat menghubungi Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, untuk mewawancarai Herdman, menunjukkan betapa ia menaruh harapan besar pada pelatih asal Inggris tersebut. Meski belum terwujud, beberapa pertanyaan yang diajukannya sudah terjawab melalui wawancara PSSI di YouTube.

Salah satu harapannya adalah agar media tempatnya bekerja menjadi yang pertama mewawancarai Herdman jika Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030.

Herdman sebenarnya bukan pilihan pertama. Timur Kapadze (Uzbekistan) dan Heimir Halgrimmsson (Eslandia) sempat menjadi kandidat. Kapadze dinilai memiliki gaya kepelatihan mirip Shin Tae-yong, namun dengan materi pemain yang lebih baik.

Kapadze membentuk tim Uzbekistan dengan gaya yang mirip Shin Tae-yong, tetapi dengan pemain yang lebih unggul dalam teknik, fisik, dan visi bermain. Generasi emas Uzbekistan bermain seperti tim Belanda 1988 yang sangat solid.

Soal Halgrimmsson akan dibahas lain waktu, fokus tetap pada Herdman. Rekan-rekan wartawan di Manchester dan Glasgow menyebut Herdman meraih nilai sempurna saat lulus ujian UEFA Pro License ketika melatih timnas Kanada.

Namun, sebelum sukses di Kanada, Herdman sempat merasa pahit karena kurang dihargai di Inggris. Pendekatan akademis dan statistiknya dianggap tidak cocok untuk klub-klub Inggris utara.

Berkat dorongan pelatih muda Brasil dan Argentina yang ditemuinya, ia memberanikan diri melamar ke asosiasi sepak bola di Eropa dan negara persemakmuran.

Terbiasa Memperbaiki Perpecahan Tim

Herdman sukses di Oceania dan Amerika Utara, menjadi guru spiritual, motivator, dan ahli taktik. Ia berhasil mengatasi perpecahan di timnas wanita Kanada dan membawa mereka menjuarai PAN American Games.

Kehebatan Herdman dapat dilihat dari kiprah timnas putra Kanada sejak 2018. Ia mengubah mentalitas pemain Kanada dan mampu menjebak lawan. Lucas Cavallini menyebut kelolosan Kanada ke Piala Dunia 2022 karena Herdman sangat detail dalam mengupas kelemahan lawan.

Kenapa Memanggil 41 Pemain dan Mencoret 17 Orang?

Hanya tiga tahun dibutuhkan Herdman untuk membawa Kanada lolos ke Piala Dunia. Ujian besar pertamanya di Indonesia adalah Piala Asia 2027. Indonesia setidaknya harus mencapai perempat final untuk menunjukkan peningkatan.

Indonesia bisa mencapai level elit Asia dengan komunikasi data modern, sains, statistik, intelijen olahraga, dan sedikit keberuntungan. Tanda-tanda manajemen canggih sudah dimulai dengan pemanggilan dua tahap pemain, yang belum pernah dilakukan pelatih Indonesia sejak era Alfred Riedl.

Herdman memanggil 41 pemain untuk laga FIFA Series 2006, lalu mencoret 17 orang. Ini adalah taktik komunikasi data modern yang didukung asisten pelatih Cesar Meylan, seorang pakar gizi dan sports-scientist. Meylan berperan penting dalam kesuksesan Herdman membawa Kanada ke Qatar 2022.

Dalam jeda waktu tersebut, 41 pemain menjalin komunikasi intensif jarak jauh, dengan rekaman digital kondisi fisik untuk mengukur bioritmik masing-masing. Sejumlah pemain menerima data kekuatan lawan: St. Kitts-Nevis, Bulgaria, dan Kepulauan Solomon.

Kevin Diks dan Jay Idzes bahkan sudah memegang instruksi elektronik dari Herdman, termasuk rekomendasi jam tidur, asupan kalori, dan trik mengatasi kelelahan akibat penerbangan panjang.

Mengingat kondisi Timnas Indonesia saat ini lebih baik dari Kanada saat pertama kali ditangani Herdman, hal-hal teknis mikro akan menentukan seberapa besar persentase kemenangan Idzes dalam seribu hari ke depan.

Dalam persiapan jangka pendek, yang dibutuhkan adalah adaptasi cepat dan visi bermain kolektif, bukan sekadar gocekan individu. Kita lihat apakah debut Herdman sebaik Shin Tae-yong, Luis Milla, dan Alfred Riedl, yang mampu memberikan dampak instan dan memanfaatkan karakter bermain Indonesia yang cair dan ofensif.

Pada era 1980-an, timnas Indonesia disegani di bawah kendali Bertje Matulapelwa dan Sinyo Aliandoe. Saat itu, pelatnas bersifat jangka panjang sehingga kecil kemungkinan pelatih terpesona pada pemain yang hanya jago menggiring bola, yang bisa berdampak buruk pada tim secara keseluruhan.

Recommended