Harga Emas Berpotensi Tembus US$ 5.220 per Ons Troi di Tengah Tekanan Inflasi AS

Pasar logam mulia kembali memanas seiring dengan ketidakpastian ekonomi global yang kian meruncing. Emas dunia saat ini menunjukkan performa yang tangguh, didorong oleh kombinasi data makroekonomi Amerika Serikat yang melambat dan tensi geopolitik yang belum mereda. Kondisi ini membuat para investor cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman.

Sentimen safe-haven menjadi motor utama penguatan harga emas saat ini. Melambatnya pertumbuhan ekonomi di Negeri Paman Sam, ditambah dengan angka inflasi yang masih berada di atas target, menciptakan dilema bagi kebijakan moneter Federal Reserve. Situasi dilematis ini justru memberikan panggung bagi emas untuk melanjutkan reli panjangnya di pasar komoditas internasional.

Secara teknikal dan fundamental, pergerakan emas diprediksi masih memiliki ruang tumbuh yang signifikan dalam jangka pendek hingga menengah. Level psikologis baru kini menjadi incaran para pelaku pasar, mengingat daya tarik emas sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan risiko sistemik global semakin solid.

Perlambatan Ekonomi AS dan Tekanan Inflasi

Penguatan harga emas saat ini tidak terjadi di ruang hampa. Data terbaru menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal IV-2025 hanya tumbuh sebesar 1,4% secara tahunan. Angka ini terjun bebas dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,4%, sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar yang mematok angka 3%.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa kombinasi antara perlambatan ekonomi dan inflasi inti (Core PCE) yang naik ke level 3% menjadi katalisator kuat. Angka inflasi tersebut masih melampaui target ideal bank sentral AS sebesar 2%, yang menempatkan The Fed dalam posisi sulit.

“Kondisi tersebut menempatkan The Fed dalam posisi sulit. Di satu sisi, inflasi yang masih tinggi bisa menunda pemangkasan suku bunga. Namun di sisi lain, perlambatan ekonomi membuka ruang bagi kebijakan yang lebih akomodatif ke depan,” papar Andy Nugraha dalam risetnya, Senin (23/2/2026).

Dampak Kebijakan Tarif Donald Trump dan Geopolitik

Selain faktor data ekonomi, kebijakan proteksionisme Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump turut memperkeruh suasana pasar. Pemberlakuan tarif impor baru melalui Undang-Undang Perdagangan 1974 telah memicu kekhawatiran akan terjadinya perang dagang global jilid baru.

Ketegangan antara AS dan Iran juga menambah daftar panjang risiko yang harus diantisipasi investor. Meskipun terdapat peluang negosiasi yang dapat membatasi lonjakan harga secara agresif, ketidakpastian hubungan diplomatik kedua negara ini tetap menjadi katalis tambahan yang mendukung penguatan harga emas sebagai aset pelindung.

Proyeksi Teknis: Target Resisten dan Level Support Penting

Secara teknikal, tren harga emas masih berada dalam fase bullish yang kuat. Indikator pergerakan rata-rata (Moving Average) serta pola candlestick menunjukkan bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar. Selama harga mampu bertahan di atas level-level psikologis penting, peluang untuk mencetak rekor baru tetap terbuka lebar.

Target Resistance US$ 5.220

Andy Nugraha memproyeksikan bahwa target penguatan terdekat berada di area resisten US$ 5.220 per ons troi. Level ini dianggap sebagai target yang realistis mengingat solidnya sentimen pendukung saat ini. Jika momentum beli terus terjaga, emas siap menyapu level tersebut dalam waktu dekat.

Waspada Area Koreksi di Level US$ 5.004

Meskipun prospek jangka panjang cenderung positif, investor tetap diingatkan untuk waspada terhadap potensi koreksi teknikal. Pasar yang sudah jenuh beli seringkali mengalami aksi ambil untung (profit taking) yang dapat menekan harga sementara waktu.

  • Support Terdekat: Kisaran US$ 5.004 per ons troi.

  • Kondisi Pasar: Masih didominasi tekanan beli, namun rentan terhadap fluktuasi data ekonomi AS mendatang.

  • Faktor Penentu: Data inflasi terbaru dan sinyal kebijakan suku bunga dari The Fed.

Secara keseluruhan, arah pergerakan emas akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS berikutnya. Para pelaku pasar disarankan untuk tetap memantau rilis data inflasi dan pernyataan resmi dari pejabat Federal Reserve untuk memitigasi risiko volatilitas tinggi di pasar logam mulia.

dikutip dari investor.id 23/2/2026

Recommended