IHSG Hari Ini (22/2): Indeks Terkoreksi Tipis, Cek 10 Saham Pilihan Asing Saat Market Volatil

Pasar modal Indonesia menutup pekan ketiga Februari 2026 dengan dinamika yang cukup menantang bagi para investor. Meskipun sempat menunjukkan taji di awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya harus menyerah dan parkir di zona merah pada penutupan perdagangan terakhir. Fenomena ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar mengenai arah tren jangka pendek, terutama melihat derasnya aliran dana keluar yang terjadi secara akumulatif.

Pergerakan IHSG yang cenderung fluktuatif ini mencerminkan sikap wait and see dari para pemodal besar terhadap rilis data ekonomi domestik maupun sentimen global. Kendati indeks mengalami tekanan, menariknya volume perdagangan tetap terjaga di level yang cukup likuid, menandakan bahwa aktivitas jual-beli di lantai bursa masih sangat bergairah. Koreksi tipis ini seringkali dianggap sebagai fase konsolidasi yang wajar setelah reli panjang di bulan sebelumnya.

Di balik koreksi indeks tersebut, terdapat anomali menarik yang patut dicermati: pergerakan investor asing. Walaupun secara keseluruhan mencatatkan penjualan bersih yang signifikan dalam sepekan, ada deretan saham blue chip dan sektor komoditas yang justru terus dikoleksi. Memahami peta akumulasi asing ini menjadi krusial bagi investor ritel untuk menentukan strategi “buy on weakness” atau sekadar menjaga manajemen portofolio di tengah volatilitas pasar saat ini.

Analisis Penutupan IHSG dan Tekanan Pasar Pekan Ini

Merujuk pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG ditutup melemah tipis 2,31 poin atau setara 0,02% ke posisi 8.271,76 pada perdagangan Jumat (20/2). Jika ditarik dalam rentang waktu satu minggu, performa indeks nasional ini tercatat mengalami akumulasi pelemahan sebesar 0,23%. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan jual lebih dominan dibandingkan daya beli selama lima hari perdagangan terakhir.

Pada sesi perdagangan Jumat, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.326 sebelum akhirnya melandai ke level terendahnya di 8.236. Nilai transaksi yang menembus Rp 20,39 triliun dengan volume 45,82 miliar saham mengindikasikan bahwa distribusi saham terjadi cukup masif. Sebanyak 381 saham terpantau melemah, sementara hanya 267 saham yang berhasil menguat, dan 171 saham lainnya jalan di tempat.

Faktor Pemicu Net Sell Jumbo Investor Asing

Salah satu sorotan utama pekan ini adalah aksi lepas saham oleh investor asing yang mencapai angka neto Rp 2,21 triliun dalam sepekan. Tekanan jual ini sebagian besar dipicu oleh penyesuaian portofolio global dan antisipasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral. Namun, pada perdagangan terakhir di hari Jumat, asing mulai menunjukkan sinyal kembali masuk dengan mencatatkan net buy sebesar Rp 240,52 miliar di seluruh pasar.

Melihat kondisi ini, pihak otoritas bursa terus memantau stabilitas pasar agar tetap kondusif bagi investor. Berdasarkan rujukan informasi dari Bursa Efek Indonesia, penguatan fundamental emiten tetap menjadi jangkar utama bagi indeks di tengah fluktuasi nilai tukar dan dinamika geopolitik yang mempengaruhi arus modal asing (capital flow).

Daftar 10 Saham yang Paling Banyak Diborong Asing (Net Buy)

Meskipun secara total asing melakukan aksi jual, beberapa emiten justru menjadi primadona dan dikoleksi secara konsisten. Sektor perbankan dan energi masih mendominasi minat beli investor luar negeri. Berikut adalah daftar 10 saham dengan nilai net buy asing tertinggi dalam sepekan terakhir:

  1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp 623,43 miliar

  2. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC): Rp 582,73 miliar

  3. PT United Tractors Tbk (UNTR): Rp 346,65 miliar

  4. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 298,66 miliar

  5. PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Rp 285,41 miliar

  6. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 239,64 miliar

  7. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA): Rp 233,76 miliar

  8. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Rp 224,03 miliar

  9. PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA): Rp 218,86 miliar

  10. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS): Rp 183,98 miliar

Strategi Menghadapi Volatilitas IHSG

Melihat daftar di atas, terlihat jelas bahwa saham-saber berbasis nikel dan emas (MDKA, MBMA, INCO, EMAS) menjadi tumpuan akumulasi asing. Hal ini sejalan dengan prospek industri hilirisasi dan harga komoditas global yang diprediksi akan kembali memanas. Di sisi lain, saham perbankan seperti BMRI dan BBRI tetap menjadi pilihan aman sebagai representasi kekuatan ekonomi nasional.

Bagi investor ritel, sangat disarankan untuk tidak panik menghadapi koreksi IHSG. Strategi yang bisa diterapkan adalah melakukan diversifikasi pada sektor yang memiliki korelasi rendah terhadap suku bunga atau fokus pada saham dengan fundamental kuat yang sedang dalam posisi diskon. Tetap perhatikan level support kuat IHSG di kisaran 8.200 sebagai acuan batas aman untuk melakukan akumulasi bertahap.

Dikutip dari kontan.co.id 22/2/2026.

Recommended