Inggris Waspada Jelang Piala Dunia 2026 Usai Takluk dari Jepang

Timnas Inggris menelan kekalahan 0-1 dari Jepang dalam uji coba di Wembley, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesiapan mereka menghadapi Piala Dunia 2026.

Kekalahan Timnas Inggris atas Jepang dalam pertandingan persahabatan menjelang Piala Dunia 2026 menjadi sorotan utama. Laga yang berlangsung di Wembley pada Rabu (1/4/2026) dini hari WIB tersebut berakhir dengan skor 0-1 melalui gol tunggal Kaoru Mitoma, demikian dilansir dari Bola. Hasil ini menimbulkan kekhawatiran mendalam mengenai kesiapan skuad asuhan Thomas Tuchel menghadapi turnamen besar musim panas mendatang.

Awalnya, pertandingan ini diharapkan menjadi ajang bagi Tuchel untuk menguji tim inti dan mematangkan strategi permainan. Namun, kendala cedera mengganggu rencana tersebut, dan performa tim justru jauh dari ekspektasi. Para penonton bahkan melayangkan cemoohan saat peluit akhir dibunyikan, mencerminkan kekecewaan terhadap penampilan The Three Lions.

Thomas Tuchel tercatat hanya gagal meraih kemenangan dalam tiga dari dua belas pertandingan sejak mengambil alih Timnas Inggris. Namun, ketiga hasil tanpa kemenangan ini terjadi saat Inggris menghadapi tim-tim yang masuk dalam 20 besar peringkat FIFA. Setelah takluk 1-3 dari Senegal pada Juni lalu dan bermain imbang melawan Uruguay pada Jumat sebelumnya, Inggris kini kembali menelan kekalahan dari Jepang.

Dua pertandingan terakhir selama jeda internasional ini memperlihatkan beberapa masalah signifikan. Timnas Inggris tampil lamban dalam membangun serangan, minim ide kreatif di lini depan, serta menunjukkan kerapuhan di lini pertahanan. Ketergantungan pada beberapa pemain kunci seperti Harry Kane, Declan Rice, dan Jude Bellingham terlihat sangat jelas. Ketidakhadiran mereka dapat menurunkan level permainan tim secara signifikan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Inggris masih sangat bergantung pada asumsi bahwa semua akan berjalan baik saat hari pertandingan Piala Dunia tiba. Mereka bahkan tidak akan menghadapi tim kuat lagi sampai pertandingan pembuka turnamen melawan Kroasia. Sebelumnya, di bawah arahan Tuchel, Inggris memang mampu meraih kemenangan efisien saat melawan tim dengan kualitas di bawah mereka, namun performa cenderung menurun saat menghadapi lawan setara atau lebih kuat.

Eksperimen False Nine Phil Foden Tidak Berhasil

Upaya memasukkan sebanyak mungkin gelandang serang ke dalam formasi bukanlah hal baru bagi Timnas Inggris. Dalam pertandingan melawan Jepang, eksperimen memainkan Phil Foden, Morgan Rogers, dan Cole Palmer secara bersamaan menemukan jawabannya: tidak efektif. Penempatan Foden sebagai false nine juga terbukti tidak menjadi solusi yang diharapkan.

Peran Foden sebagai penyerang semu kurang maksimal. Bola kerap memantul darinya saat tim membutuhkan pemain yang bisa menahan bola di lini depan. Suplai bola kepadanya juga minim. Bahkan, di awal babak kedua, Foden memiliki sentuhan paling sedikit dibandingkan pemain Inggris lainnya, termasuk kiper Jordan Pickford.

Salah satu momen penting terjadi saat Nico O'Reilly melepaskan umpan silang bagus pada babak pertama. Dalam situasi yang idealnya bisa dimanfaatkan Harry Kane dengan sundulan keras, Foden justru kalah duel udara dari Daichi Kamada. Tuchel sedang mencari alternatif untuk Kane yang absen karena cedera, namun Dominic Solanke dan Dominic Calvert-Lewin belum meyakinkan saat melawan Uruguay, dan kini Foden pun gagal memanfaatkan peluangnya sebagai penyerang.

Lewis Hall Menarik Perhatian

Meskipun performa tim secara keseluruhan kurang memuaskan, Lewis Hall berhasil mencuri perhatian selama jeda internasional ini. Walaupun baru mendapat dua kesempatan bermain singkat sebagai pemain pengganti, penampilannya cukup impresif untuk membuat Tuchel mempertimbangkan bek Newcastle tersebut sebagai opsi utama di posisi bek kiri.

Djed Spence tampil buruk saat melawan Uruguay, sementara Nico O'Reilly, meskipun menunjukkan beberapa momen positif, mungkin tidak seefektif Hall dalam memberikan keseimbangan. Inggris membutuhkan pemain yang mampu menjaga lebar permainan dan meregangkan pertahanan lawan, mengingat banyaknya pemain yang cenderung bergerak ke tengah.

Hall menunjukkan kemampuan tersebut dengan sangat baik. Ia sering melakukan penetrasi ke kotak penalti Jepang dan menghadirkan ancaman yang berbeda. Kecepatan dan agresivitasnya terlihat jelas, bahkan hampir mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-89 melalui tembakan mendatar yang keras. Kehadiran Hall tampaknya mampu memberikan keseimbangan yang diperlukan di sisi kiri lapangan, yang sebelumnya terasa kurang seimbang di berbagai area.

Kekalahan dari Jepang ini menjadi pengingat serius bagi Timnas Inggris. Permasalahan mendasar seperti performa yang belum stabil melawan tim kuat, eksperimen taktik yang belum berhasil, serta kebutuhan mendesak untuk menemukan komposisi pemain terbaik, masih harus diselesaikan. Waktu bagi Tuchel semakin menipis, dengan hanya dua pertandingan pemanasan tersisa sebelum Piala Dunia. Inggris harus segera menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting ini agar kekhawatiran di Wembley tidak berubah menjadi masalah besar di turnamen sesungguhnya.

Recommended